Lagunya baru saja usai. Namun air mataku sudah kering, dan mataku sudah kebas. Dada masih nyeri, meski sekuat apapun aku mempertemukan kedua pasang kelopak mataku, tidak ada lagi air yang keluar. Tenggorokan juga masih terasa dihunus sembilu, meski sedalam apapun aku merogoh, tidak ada lagi yang bisa kutemukan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian ribu jam, aku, kosong.
Lantas ku memutar lagu yang sama untuk kesekian ratus kalinya. Entah untuk alasan apa, aku ingin bisa menangis. Kau tahu betapa menyebalkan merasakan sakit namun sudah kehabisan daya untuk menangis? Setidaknya menangis mengalihkan nyeri dan perih yang menjalar; mekanisme pertahanan manusiawi yang paling dasar. Setidaknya dengan menangis, berarti kau tidak kosong. Kau masih merasa.
Lalu-lalang manusia berpakaian kelabu masih asyik, menawarkan elegi yang kutahu sengaja meledekku. Beberapa memakai topi, beberapa bermantel tebal, dan beberapa bersarung tangan kulit sapi. Duniaku dan dunia mereka hanya terhalang dua lapis kaca lebar ini. Seorang wanita menjatuhkan sarung tangannya tepat di depanku, warnanya kelabu. Kau harus tahu bagaimana aku mendeskripsikan kelabu. Kelabu bukan hitam. Kelabu bukan abu-abu. Kelabu bukan sekadar gelap, karena gelap berarti ketiadaan terang. Kelabu adalah kegagalanku menemukan rupa. Sarung tangan wanita tadi, kelabu yang tiba-tiba menonjok tenggorokanku. Sakit. Namun tetap gagal membuatku menangis.
Kemudian kulihat sekelebat punggung yang nampak familiar. Punggung itu membelakangiku di seberang jalan. Tulang bahunya terangkat ketika dia memasukkan tangan ke dalam saku celananya. Rahangnya sekilas menyapa ketika berpaling. Dia masih berdiri di sana. Aku berusaha membuat sketsa wajah di dalam kepalaku dari punggung yang familiar itu. Lalu muncul sensasi yang sangat kukenal; seperti isi dadamu turun ke perut lantas mulas. Ketika punggung itu berbalik dan sketsa di kepalaku bercermin di wajahnya, rasa mulas itu menjadi-jadi. Kubuang muka, mencoba membuat sketsa wajah di kepalaku berhenti bercermin di wajah sekelebat punggung tadi.
Bel pintu di samping kaca berdenting. Angin dari luar menyapa tengkuk, hangat, seolah lupa bahwa seharusnya dia bekerja sama dengan baik dengan musim bulan Februari. Rasa mulas masih menguasai sekujur. Perlahan tapi pasti, telapak kakiku berkeringat dingin, terjebak di dalam sepatu sebetulnya longgar-longgar saja. Rasa mulas kemudian ditemani dengan deru jantung yang tak beraturan. Nyaris kukira ada sesuatu yang salah dengan beberapa teguk kopi labu dari cangkir kertas ini. Pipiku menghangat, dipaksa tengkuk. Terus aku terpekur, berusaha menolak sensasi yang menjalari sekujur; berharap dengan diam tak bergeming akan mengembalikan deru jantung menjadi teratur.
Sejurus, sepasang kaki berdiri di samping mejaku. Hangat di tengkuk makin nikmat. Februari berkhianat. Aku pun mendongak, dan menangis sejadiku.
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 18 Februari 2017
Rabu, 26 November 2014
Mengenai perkembangan misi membaca: Autumn Once More, Parasit Lajang, dan Katarsis
Dari mulai bulan Agustus lalu, saya baru berhasil menyelesaikan tiga buku bacaan; Autumn Once More, Parasit Lajang, dan Katarsis. Silakan, Anda boleh mengatakan saya tidak komit, pemalas, atau pembaca yang buruk. Memang benar adanya. Yang terakhir, Katarsis, malah baru saya selesaikan kemarin dalam waktu sehari saja.
Sensasi yang saya rasakan sewaktu membaca ketiga buku itu berbeda-beda. After effect-nya pun berbeda-beda. Sewaktu membaca Autumn Once More, saya 'berenang' diantara kisah-kisah manis dan getir tentang cinta, yang ditulis ringan ala Metropop. Kelar membacanya saya senyum-senyum, ingat pacar, ingat cinta pertama saya sewaktu SMP, ingat taksir-taksiran saya zaman SMP juga. Ternyata, sebenarnya cerita cinta yang beredar di seluruh penjuru dunia ini tidak jauh beda, tapi pemaknaan dan penceritaanya yang bervariasi yang membuat cerita cinta itu seolah banyak macamnya. Fasenya, toh, cuma ada empat: bertemu, jatuh cinta, bersama, langgeng/putus. Iya, tidak?
Kemudian saya berlanjut membaca Parasit Lajang, selang 3-4 hari setelah selesai dengan Autumn Once More. Saya orang yang mendambakan pernikahan, karena saya dibesarkan oleh kedua orang tua yang selalu nampak sangat mencintai satu sama lain, dan tidak sungkan menunjukkan PDA (Public Display Affection) di depan anak-anaknya. Oleh karena itu, saya tumbuh besar memimpikan keluarga yang bahagia seperti yang dimiliki papa mama saya; dengan rumah besar berkamar banyak, karena anaknya juga banyak (saya anak pertama dari empat bersaudara). Hal ini membuat saya merasa seperti sedang berkelahi di atas ring tinju selama membaca Parasit Lajang. Bagi yang sudah pernah membacanya, pasti Anda bisa mengerti sensasi yang saya rasakan. Saya tidak bilang paham, ya, hanya mengerti saja.
Secara keseluruhan, saya mengagumi cara berpikir Ayu Utami yang kompleks. Semua hal dia kritisi. Dari mulai seks yang seharusnya dimaknai sebagai kenikmatan badaniah tanpa perlu dihubungkan dengan resminya pernikahan, hingga terapi minum urin yang sempat ngetren beberapa tahun silam di kalangan artis. Tapi, ya itu tadi, kelar membaca, rasanya saya seperti babak belur habis bertinju.
Selang 2-3 hari setelah menyelesaikan Parasit Lajang, saya berlanjut ke Katarsis. Anda pernah bermain permainan komputer, Slender Man? Nah, rasa sepaneng membaca Katarsis sama seperti ketika Anda bermain Slender Man. Sayangnya, sampai di tengah-tengah cerita, rasa penasaran yang berhasil dibangun si penulis sejak awal cerita, mulai memudar. Kemunculan satu tokoh lain yang tiba-tiba mengubah sudut pandang cerita, membuat alur mulai bisa saya tebak. Sebagai pecinta Fahri Asiza sewaktu SMP dulu, alur yang dibangun penulis Katarsis ini tak jauh beda. Meski tetap sepaneng, saya sudah bisa menebak siapa dalang dari semua pembunuhan berantai yang menghantui si tokoh utama yang awalnya masih antagonis.
Sekarang, saya sedang bersantai, mendinginkan otak dengan membaca kisah seringan When Patty Went to College. Saya mau mengakui satu hal: buku ini saya beli di tahun 2010, waktu masih tahun pertama kuliah dan belum pernah saya baca sampai selesai, sampai sekarang saya sudah lulus. Silakan, penthung saya pakai batang sapu ijuk!
Sensasi yang saya rasakan sewaktu membaca ketiga buku itu berbeda-beda. After effect-nya pun berbeda-beda. Sewaktu membaca Autumn Once More, saya 'berenang' diantara kisah-kisah manis dan getir tentang cinta, yang ditulis ringan ala Metropop. Kelar membacanya saya senyum-senyum, ingat pacar, ingat cinta pertama saya sewaktu SMP, ingat taksir-taksiran saya zaman SMP juga. Ternyata, sebenarnya cerita cinta yang beredar di seluruh penjuru dunia ini tidak jauh beda, tapi pemaknaan dan penceritaanya yang bervariasi yang membuat cerita cinta itu seolah banyak macamnya. Fasenya, toh, cuma ada empat: bertemu, jatuh cinta, bersama, langgeng/putus. Iya, tidak?
Kemudian saya berlanjut membaca Parasit Lajang, selang 3-4 hari setelah selesai dengan Autumn Once More. Saya orang yang mendambakan pernikahan, karena saya dibesarkan oleh kedua orang tua yang selalu nampak sangat mencintai satu sama lain, dan tidak sungkan menunjukkan PDA (Public Display Affection) di depan anak-anaknya. Oleh karena itu, saya tumbuh besar memimpikan keluarga yang bahagia seperti yang dimiliki papa mama saya; dengan rumah besar berkamar banyak, karena anaknya juga banyak (saya anak pertama dari empat bersaudara). Hal ini membuat saya merasa seperti sedang berkelahi di atas ring tinju selama membaca Parasit Lajang. Bagi yang sudah pernah membacanya, pasti Anda bisa mengerti sensasi yang saya rasakan. Saya tidak bilang paham, ya, hanya mengerti saja.
Secara keseluruhan, saya mengagumi cara berpikir Ayu Utami yang kompleks. Semua hal dia kritisi. Dari mulai seks yang seharusnya dimaknai sebagai kenikmatan badaniah tanpa perlu dihubungkan dengan resminya pernikahan, hingga terapi minum urin yang sempat ngetren beberapa tahun silam di kalangan artis. Tapi, ya itu tadi, kelar membaca, rasanya saya seperti babak belur habis bertinju.
Selang 2-3 hari setelah menyelesaikan Parasit Lajang, saya berlanjut ke Katarsis. Anda pernah bermain permainan komputer, Slender Man? Nah, rasa sepaneng membaca Katarsis sama seperti ketika Anda bermain Slender Man. Sayangnya, sampai di tengah-tengah cerita, rasa penasaran yang berhasil dibangun si penulis sejak awal cerita, mulai memudar. Kemunculan satu tokoh lain yang tiba-tiba mengubah sudut pandang cerita, membuat alur mulai bisa saya tebak. Sebagai pecinta Fahri Asiza sewaktu SMP dulu, alur yang dibangun penulis Katarsis ini tak jauh beda. Meski tetap sepaneng, saya sudah bisa menebak siapa dalang dari semua pembunuhan berantai yang menghantui si tokoh utama yang awalnya masih antagonis.
Sekarang, saya sedang bersantai, mendinginkan otak dengan membaca kisah seringan When Patty Went to College. Saya mau mengakui satu hal: buku ini saya beli di tahun 2010, waktu masih tahun pertama kuliah dan belum pernah saya baca sampai selesai, sampai sekarang saya sudah lulus. Silakan, penthung saya pakai batang sapu ijuk!
Minggu, 24 Agustus 2014
Prosa pendek: Teman terkadang
Photo credit: Pravsworld
Aku tak pernah keberatan menemanimu sewaktu dia pergi. Bagiku, bisa mendapatkan kesempatan denganmu sepuluh menit saja sehari tanpa ada saingan, hampir surgawi. Aku suka mendengar ocehanmu yang seringnya absurd. Aku suka berpura-pura menjadi kekasihmu ketika menyeka airmata yang menjalur di pipimu. Aku tak pernah bisa berhenti tertawa ketika kamu mengganti lirik lagu bahasa Inggris dengan bahasa Jawa dengan acuh.
Orang boleh menyuruhku
mencari kekasih sungguhan, bukannya mendamaikan kegilaanku dengan cara
menemanimu setiap dia pergi. Kata mereka, aku hanya buang-buang waktu. Mereka
sering berseloroh kamu bodoh, karena seperti apapun sakitnya bersama dia, kamu
tidak akan pernah mau menukarnya dengan seperti apapun manisnya bersamaku. Aku
tidak pernah mengimani bahwa selama ini aku membuang-buang waktu.
Seperti nelayan, yang
tak pernah merasa membuang-buang waktu dengan menebar sepuluh jala, padahal
musim sudah kukuh hanya mau bermurah hati pada tujuh jala saja. Karena ketiga
lainnya itu berharga harapan. Tak peduli apa hasil akhirnya, yang terpenting jangan sengaja menghilangkan harapan.
Ponorogo, 25 Agustus 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
