Saya percaya bahwa manusia ditakdirkan untuk jatuh cinta, dalam ranah romantis, beberapa kali selama hidupnya. Meskipun sebutan the love of my life hanya akan berlaku untuk satu orang, namun episode jatuh cinta yang hebat bisa terjadi bukan hanya pada satu orang saja. Jatuh cinta yang hebat di sini biasanya melibatkan rasa berdebar di dada yang sangat sukar diredam, telapak tangan dan kaki yang selalu saja terasa dingin setiap kali harus berhadapan dengan the object of affection, dan kondisi sulit tidur akut yang mengakibatkan tubuh letih lesu meskipun hati sedang hingar-bingar. Ketika episode jatuh cinta yang seperti ini sedang diputarkan Tuhan untuk kita, semua lagu yang bersajak indah merayu tiba-tiba menjadi sangat relatable, dan kita tidak perlu menghadap langit sambil menunggu gerimis dulu untuk melihat pelangi.
Beberapa kasus jatuh cinta tidak selalu berakhir dengan bersatunya fulandari dan fulandanu. Bisa jadi karena fulandari yang merasa gengsi untuk mengutarakannya karena merasa fulandanu lah yang seharusnya memulai, atau karena fulandanu yang lelah menunggu fulandari menyambut perasaannya. Meskipun pada akhirnya tidak terjadi apapun di antara mereka berdua, kemudian musim berganti sampai mereka berdua akhirnya menjadi asing terhadap satu sama lain, bekas debaran jantung yang dahsyat sampai membuat lutut lemas itu akan tetap tinggal di tempat yang sama selamanya. Seringnya sengaja dilupa, namun sesekali dia akan berhasil berjingkat-jingkat menyusup ke dalam hati dan memicu kalimat ini, "Ah, iya. Dia."
Kalau dihitung-hitung, ada lima episode jatuh cinta terdahsyat yang pernah saya alami. Dua di antaranya tidak masuk kategori unrequited love dan terjadi atas dasar prinsip, "It is nice to be wanted." Namanya juga hati, kalau ada yang menawarkan tempat bersandar dan ternyata nyaman, ya, akhirnya menyerah. Sedangkan dua cerita lain yang tidak pernah diungkap kepada the object of affection terjadi karena adanya kekuatan sparks and chemistry yang saya rasakan pada mereka, yang lantas diperparah dengan kekaguman yang pelan-pelan menggunung.
Seharusnya ada tiga episode yang bisa masuk ke dalam kategori unrequited love, sampai beberapa minggu yang lalu Tuhan akhirnya memutuskan untuk mengacaukan pola cerita cinta di kehidupan saya. Dari sini lah kegelisahan ini muncul. Saya yang tadinya adalah self-proclaimed pro at handling hidden feelings mendadak kehilangan arah, tidak tahu harus bagaimana mengelola letupan-letupan familiar yang anehnya sekarang terasa baru. Dalam dua episode cinta diam-diam dulu, saya berhasil keluar dari 'medan perang' dengan hati yang utuh. Bahkan sampai sekarang saya mensyukuri kepengecutan saya waktu itu, dan dengan ikhlas mengakuinya sebagai tabiat pemuja rahasia.
Siapa yang menduga dua kali pernah sukses mengendalikan cinta diam-diam ternyata menjadi tidak berguna ketika akhirnya gayung saya justru bersambut? Apakah saya kesal karena gayungnya bersambut? Tidak juga. Apakah saya lebih memilih gayung ini selamanya mengapung-apung bebas di perairan unrequited love, yang anehnya sedikit saya banggakan? Tidak juga. Apakah saya tidak bersyukur karena lelaki yang bertahun-tahun hanya saya amati punggungnya dari jauh, sekarang mungkin sedang tersenyum ge-er membaca ceracau saya kali ini? Tentu saja saya bersyukur. Masalahnya bukan lah pertanyaan-pertanyaan yang saya sebutkan di atas. Keahlian saya bertahan mencintai dalam diam kini jadi seperti payung yang diterpa hujan deras, lalu patah rangkanya dan terbang terbawa angin. Saya menjadi pemuja rahasia yang gagal di depan lelaki ini. Kemampuan saya dalam mengendalikan letupan-letupan romantis lenyap seketika gara-gara dia. Saya meracau tak terkendali dimana-mana dan kepada siapa saja tentang dia. Padahal ketika kami bicara berdua, yang kami obrolkan justru keseharian kami, sembari saya menahan-nahan jantung yang rasanya mau melompat keluar lewat tenggorokan.
Sekian waktu hanya menyapanya dalam angan membuat saya masih meraba-raba bagaimana sebaiknya berkasih dengan lelaki ini; yang datangnya saja mendadak, seperti melompat keluar dari mesin waktu yang bertanggal enam tahun yang lalu; yang raganya jauh namun hawanya sedekat nadi.
Tampilkan postingan dengan label thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thoughts. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Februari 2017
Sabtu, 18 Februari 2017
Kau Adalah Bagaimana Tuhan Mencintaiku
Lagunya baru saja usai. Namun air mataku sudah kering, dan mataku sudah kebas. Dada masih nyeri, meski sekuat apapun aku mempertemukan kedua pasang kelopak mataku, tidak ada lagi air yang keluar. Tenggorokan juga masih terasa dihunus sembilu, meski sedalam apapun aku merogoh, tidak ada lagi yang bisa kutemukan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian ribu jam, aku, kosong.
Lantas ku memutar lagu yang sama untuk kesekian ratus kalinya. Entah untuk alasan apa, aku ingin bisa menangis. Kau tahu betapa menyebalkan merasakan sakit namun sudah kehabisan daya untuk menangis? Setidaknya menangis mengalihkan nyeri dan perih yang menjalar; mekanisme pertahanan manusiawi yang paling dasar. Setidaknya dengan menangis, berarti kau tidak kosong. Kau masih merasa.
Lalu-lalang manusia berpakaian kelabu masih asyik, menawarkan elegi yang kutahu sengaja meledekku. Beberapa memakai topi, beberapa bermantel tebal, dan beberapa bersarung tangan kulit sapi. Duniaku dan dunia mereka hanya terhalang dua lapis kaca lebar ini. Seorang wanita menjatuhkan sarung tangannya tepat di depanku, warnanya kelabu. Kau harus tahu bagaimana aku mendeskripsikan kelabu. Kelabu bukan hitam. Kelabu bukan abu-abu. Kelabu bukan sekadar gelap, karena gelap berarti ketiadaan terang. Kelabu adalah kegagalanku menemukan rupa. Sarung tangan wanita tadi, kelabu yang tiba-tiba menonjok tenggorokanku. Sakit. Namun tetap gagal membuatku menangis.
Kemudian kulihat sekelebat punggung yang nampak familiar. Punggung itu membelakangiku di seberang jalan. Tulang bahunya terangkat ketika dia memasukkan tangan ke dalam saku celananya. Rahangnya sekilas menyapa ketika berpaling. Dia masih berdiri di sana. Aku berusaha membuat sketsa wajah di dalam kepalaku dari punggung yang familiar itu. Lalu muncul sensasi yang sangat kukenal; seperti isi dadamu turun ke perut lantas mulas. Ketika punggung itu berbalik dan sketsa di kepalaku bercermin di wajahnya, rasa mulas itu menjadi-jadi. Kubuang muka, mencoba membuat sketsa wajah di kepalaku berhenti bercermin di wajah sekelebat punggung tadi.
Bel pintu di samping kaca berdenting. Angin dari luar menyapa tengkuk, hangat, seolah lupa bahwa seharusnya dia bekerja sama dengan baik dengan musim bulan Februari. Rasa mulas masih menguasai sekujur. Perlahan tapi pasti, telapak kakiku berkeringat dingin, terjebak di dalam sepatu sebetulnya longgar-longgar saja. Rasa mulas kemudian ditemani dengan deru jantung yang tak beraturan. Nyaris kukira ada sesuatu yang salah dengan beberapa teguk kopi labu dari cangkir kertas ini. Pipiku menghangat, dipaksa tengkuk. Terus aku terpekur, berusaha menolak sensasi yang menjalari sekujur; berharap dengan diam tak bergeming akan mengembalikan deru jantung menjadi teratur.
Sejurus, sepasang kaki berdiri di samping mejaku. Hangat di tengkuk makin nikmat. Februari berkhianat. Aku pun mendongak, dan menangis sejadiku.
Untuk pertama kalinya setelah sekian ribu jam, aku, kosong.
Lantas ku memutar lagu yang sama untuk kesekian ratus kalinya. Entah untuk alasan apa, aku ingin bisa menangis. Kau tahu betapa menyebalkan merasakan sakit namun sudah kehabisan daya untuk menangis? Setidaknya menangis mengalihkan nyeri dan perih yang menjalar; mekanisme pertahanan manusiawi yang paling dasar. Setidaknya dengan menangis, berarti kau tidak kosong. Kau masih merasa.
Lalu-lalang manusia berpakaian kelabu masih asyik, menawarkan elegi yang kutahu sengaja meledekku. Beberapa memakai topi, beberapa bermantel tebal, dan beberapa bersarung tangan kulit sapi. Duniaku dan dunia mereka hanya terhalang dua lapis kaca lebar ini. Seorang wanita menjatuhkan sarung tangannya tepat di depanku, warnanya kelabu. Kau harus tahu bagaimana aku mendeskripsikan kelabu. Kelabu bukan hitam. Kelabu bukan abu-abu. Kelabu bukan sekadar gelap, karena gelap berarti ketiadaan terang. Kelabu adalah kegagalanku menemukan rupa. Sarung tangan wanita tadi, kelabu yang tiba-tiba menonjok tenggorokanku. Sakit. Namun tetap gagal membuatku menangis.
Kemudian kulihat sekelebat punggung yang nampak familiar. Punggung itu membelakangiku di seberang jalan. Tulang bahunya terangkat ketika dia memasukkan tangan ke dalam saku celananya. Rahangnya sekilas menyapa ketika berpaling. Dia masih berdiri di sana. Aku berusaha membuat sketsa wajah di dalam kepalaku dari punggung yang familiar itu. Lalu muncul sensasi yang sangat kukenal; seperti isi dadamu turun ke perut lantas mulas. Ketika punggung itu berbalik dan sketsa di kepalaku bercermin di wajahnya, rasa mulas itu menjadi-jadi. Kubuang muka, mencoba membuat sketsa wajah di kepalaku berhenti bercermin di wajah sekelebat punggung tadi.
Bel pintu di samping kaca berdenting. Angin dari luar menyapa tengkuk, hangat, seolah lupa bahwa seharusnya dia bekerja sama dengan baik dengan musim bulan Februari. Rasa mulas masih menguasai sekujur. Perlahan tapi pasti, telapak kakiku berkeringat dingin, terjebak di dalam sepatu sebetulnya longgar-longgar saja. Rasa mulas kemudian ditemani dengan deru jantung yang tak beraturan. Nyaris kukira ada sesuatu yang salah dengan beberapa teguk kopi labu dari cangkir kertas ini. Pipiku menghangat, dipaksa tengkuk. Terus aku terpekur, berusaha menolak sensasi yang menjalari sekujur; berharap dengan diam tak bergeming akan mengembalikan deru jantung menjadi teratur.
Sejurus, sepasang kaki berdiri di samping mejaku. Hangat di tengkuk makin nikmat. Februari berkhianat. Aku pun mendongak, dan menangis sejadiku.
Senin, 06 Februari 2017
Ada Apa Dengan Percikan?
Beberapa bulan yang lalu, saya dan lingkaran pertemanan ciwi-ciwi terdekat rajin membicarakan kata chemistry dan spark. Kebetulan lima dari sahabat perempuan terdekat memang masih hidup soliter. Kami bukannya tidak dilirik para lelaki, bahkan sudah ada yang dilamar. Namun dua kata-kata pamungkas itulah yang menjadi patokan apakah para lelaki yang melirik bahkan melamar itu layak mendapatkan perempuan berkualitas seperti kami.
Sebenarnya, apa yang kami maksud dengan chemistry dan spark? Zat kimiawi? Percikan? Saya akan coba membedahnya, mewakili para perempuan kesayangan saya.
Jadi, chemistry dan spark adalah dua hal yang berbeda namun tidak terpisahkan. Sepemahaman saya, chemistry adalah level familiaritas percakapan. Bahasa gaulnya, nyambung enggak-nya. Biasanya chemistry muncul dari topik hobi yang sama, buku favorit, film favorit, tokoh politik favorit, klub sepakbola favorit, sampai berujung ke pembicaraan filosofis yang biasanya bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang pandangan hidup pihak yang sedang diprospek. Satu hal yang penting bagi saya, sebetulnya chemistry bisa dibangun dan dipupuk. Caranya? Dengan membiasakan diri dengan hal-hal yang disenangi oleh pihak yang diprospek. Perlahan level familiaritas percakapan akan meningkat seiring waktu, yang penting ada kemauan untuk menurunkan ego dan kompromi mengenai beberapa selera yang mungkin bertolak belakang.
Sayangnya, spark alias percikan tidak bisa dikamuflase atau diupayakan. Percikan itu 'ada', bukan 'muncul'. Jadi, dia bukanlah satu hal yang berproses, yang gradually bisa dihadirkan asalkan ada usaha. It's either there abundantly, or not at all, right at the moment you look into each other's eyes. Atau pada waktu kulit tidak sengaja bersentuhan. Atau pada waktu saling mendengar suara satu sama lain. Percikan adalah momen berhentinya denyut nadi kita sepersekian detik ketika menyadari adanya kehadiran pihak yang diprospek, apapun wujudnya. Bahkan aroma keringat, atau hal seremeh nama yang muncul di notifikasi smartphone pun bisa menjadi penanda percikan yang dahsyat sampai membuat lutut lemas. Saya sendiri sangat mengandalkan percikan. Tidak peduli seberapa tampan, seberapa cerdas, seberapa menarik seorang lelaki secara keseluruhan, semua akan sia-sia tanpa adanya percikan. Namun, bukan berarti ada yang salah dengan lelaki tersebut. The heart wants what it wants, and it's just not that guy.
Kesimpulannya, spark harus ada dulu supaya chemistry bisa berkembang. Tanpa percikan, tidak akan muncul keinginan untuk meningkatkan level familiaritas percakapan. I rest my case.
Sebenarnya, apa yang kami maksud dengan chemistry dan spark? Zat kimiawi? Percikan? Saya akan coba membedahnya, mewakili para perempuan kesayangan saya.
Jadi, chemistry dan spark adalah dua hal yang berbeda namun tidak terpisahkan. Sepemahaman saya, chemistry adalah level familiaritas percakapan. Bahasa gaulnya, nyambung enggak-nya. Biasanya chemistry muncul dari topik hobi yang sama, buku favorit, film favorit, tokoh politik favorit, klub sepakbola favorit, sampai berujung ke pembicaraan filosofis yang biasanya bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang pandangan hidup pihak yang sedang diprospek. Satu hal yang penting bagi saya, sebetulnya chemistry bisa dibangun dan dipupuk. Caranya? Dengan membiasakan diri dengan hal-hal yang disenangi oleh pihak yang diprospek. Perlahan level familiaritas percakapan akan meningkat seiring waktu, yang penting ada kemauan untuk menurunkan ego dan kompromi mengenai beberapa selera yang mungkin bertolak belakang.
Sayangnya, spark alias percikan tidak bisa dikamuflase atau diupayakan. Percikan itu 'ada', bukan 'muncul'. Jadi, dia bukanlah satu hal yang berproses, yang gradually bisa dihadirkan asalkan ada usaha. It's either there abundantly, or not at all, right at the moment you look into each other's eyes. Atau pada waktu kulit tidak sengaja bersentuhan. Atau pada waktu saling mendengar suara satu sama lain. Percikan adalah momen berhentinya denyut nadi kita sepersekian detik ketika menyadari adanya kehadiran pihak yang diprospek, apapun wujudnya. Bahkan aroma keringat, atau hal seremeh nama yang muncul di notifikasi smartphone pun bisa menjadi penanda percikan yang dahsyat sampai membuat lutut lemas. Saya sendiri sangat mengandalkan percikan. Tidak peduli seberapa tampan, seberapa cerdas, seberapa menarik seorang lelaki secara keseluruhan, semua akan sia-sia tanpa adanya percikan. Namun, bukan berarti ada yang salah dengan lelaki tersebut. The heart wants what it wants, and it's just not that guy.
Kesimpulannya, spark harus ada dulu supaya chemistry bisa berkembang. Tanpa percikan, tidak akan muncul keinginan untuk meningkatkan level familiaritas percakapan. I rest my case.
Jumat, 03 Februari 2017
Jadi, London itu...
Saya tahu ini terdengar sangat generik, namun memang banyak pengalaman baru yang saya rasakan semenjak menjejakkan kaki pertama kali di London. Merasakan hidup kemana-mana jalan kaki minimal 5 kilometer sehari, merasakan harus berdesak-desakkan dengan seisi London di dalam tube tiap ada kuliah jam 9 pagi dan pulang kuliah pada jam pulang kantor, merasakan doing groceries yang bebannya membuat bahu rasanya hampir rontok sambil harus berjalan kaki beberapa kilometer dari rumah (sedangkan waktu di Indonesia kemana-mana selalu naik motor), merasakan serangan flu yang parah sampai suara habis sehabis-habisnya di awal musim dingin dan hanya mampu mengandalkan obat komersil yang dijual di Sainsbury karena membeli obat di apotek tidak semudah di Indonesia, dan lain-lain. Yang pasti, saya akhirnya memahami bagaimana kehidupan yang sepi dan sendiri di negara orang dapat membuat pertahanan fisik dan mental kita runtuh.
Desember adalah bulan yang paling menguji ketahanan diri saya, baik mental maupun fisik, sejauh ini. Tugas-tugas akhir term semua mata kuliah berkumpul di bulan ini. Angin dingin yang setiap hari menerpa diperparah dengan kondisi hati yang akhirnya patah. Flu hebat yang melenyapkan suara juga mendera di bulan ini. Kembali mendapati hati yang kosong dan menjalani kehidupan single di saat berjuang di negara asing ternyata tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Saya tadinya berpikir bahwa menjomblo akan menjadi pilihan yang lebih mudah dengan padatnya tugas kuliah yang harus ditunaikan, karena berarti saya tidak harus memikirkan bahwa sedang ada yang menunggu di Indonesia. Namun, saya salah. Saya baru menyadari di sini bahwa saya adalah pencinta, terbiasa menikmati romansa. Setelah saya urut ke belakang, hampir tidak pernah ada momen dalam hidup saya di mana saya tidak mengagumi dan menyukai ide romansa dengan seseorang, meskipun tidak selalu berarti kami menjadi pasangan. Saya bukannya tidak paham bahwa saya tidak perlu mengasosiasikan kedamaian hati dengan kehadiran orang lain, namun, gagasan bahwa diri ini tidak sedang merasakan pengharapan kepada seseorang membuat saya mengerti bagaimana sebuah kehampaan bisa terjadi.
Pada akhirnya, berdamai dengan sepi adalah pilihan yang tidak terelakkan. Saat virus mendera tubuh lagi seperti sekarang ini, hidup memaksa saya untuk tidak hanya menelan pahitnya ibuprofen, namun juga menelan kesendirian sebab tidak lagi punya tempat berkeluh kesah andalan karena semua orang terdekat punya kehidupan sendiri-sendiri. The brutal truth is nobody is really there to help. Teman baik, orang tua, saudara kandung, mungkin saja mendengarkan ceritamu dan memberikan perhatian yang layak, yang terbaik yang mereka mampu. Namun, pada akhirnya kamu tetap harus berjuang sendiri, di daratan asing dengan sisa-sisa daya yang kamu miliki.
Sekali lagi, sendiri.
Lokasi:
London, UK
Rabu, 10 Agustus 2016
Jakarta: Elu-Gue Selfie dan Seni Memaksa Diri
Hehe. Siapkan mata untuk a super long post, ya!
Kepada siapapun yang membaca blog ini, saya minta maaf karena tidak rajin menulis. Sebetulnya, overthinking terjadi setiap hari, jadi tidak ada yang namanya situasi 'tidak punya bahan tulisan'. Sayangnya, sudah hampir tiga bulan ini laptop tua milik saya (ACER angkatan 2007) rusak. Benar-benar rusak dan tidak bisa diselamatkan lagi. Jadilah saya 'menumpang' laptop punya adik. Laptop ini pun sesungguhnya sudah waktunya 'cuci otak' karena virus-virus sudah membuat performanya jadi sangat lambat.
Anyway...
Bulan Juni dan Juli kemarin, saya mengunjungi Jakarta lagi. Di bulan Juni, keperluannya adalah untuk mendatangi lapak pemulung di Pasar Minggu, guna menunaikan kewajiban menjadi sukarelawan program Menyapa Indonesia LPDP PK-46. Saya berada di Jakarta dari tanggal 2 sampai tanggal 4. Yang menjadi highlight acara kali ini adalah adik-adik yang kami temui di lapak pemulung tersebut. Sebagian besar dari mereka masih bersekolah SD, sebagian lagi masih belum sekolah. Di hari Sabtu, mereka kami beri materi wawasan kebangsaan, seperti peta Indonesia, makanan dan bahasa daerah, dan beberapa peristiwa bersejarah di daerah. Kemudian di hari Minggu, kami mengajarkan cara membuat kerajinan tangan dari kain flanel dan dakron.
Interaksi selama dua hari itu membuat saya jadi sedikit tahu tentang bagaimana kondisi anak-anak di daerah pinggiran kota Jakarta. Cara bicara mereka berbeda dari anak-anak di daerah tempat saya tinggal, Ponorogo. Mereka lebih lugas alias ceplas-ceplos. Ada beberapa adik yang dengan berani meminta sisa makanan ringan yang kami bagikan untuk dibawa pulang, padahal sebelumnya mereka sudah dapat jatah. Hahaha. Lalu, selama ini saya kira bahasa "elu-gue" itu monopoli orang dewasa ibu kota. Ternyata anak usia TK pun sudah menggunakan bahasa itu untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Yang membuat saya sedikit heran, ada seorang adik yang nginthil terus pada saya, dan akhirnya meminta selfie. Hmm. Anak zaman sekarang memang tidak mungkin tidak kenal selfie, ya?
Untungnya kepolosan mereka masih khas anak-anak seusianya. Taruhan, daya tangkap pengetahuan mereka tidak kalah dengan anak-anak yang tinggal di tengah kota. Ada satu adik yang bertanya pada kami:
"Kakak, tahu gedung-gedung yang tinggi di kota? Kakak pernah masuk?"
"Gedung apa?"
"Yang banyak kacanya itu lho!"
"Oooh. Kenapa memangnya?"
"Di dalamnya kayak apa, sih, Kak?"
Saya dan teman saya pun saling berpandangan.
Moving on...
Kunjungan di bulan Juli kemarin bertujuan untuk menghadiri Pre-Departure Briefing yang diadakan oleh British Council di Soehana Hall, di daerah SCBD, tanggal 23 siang. Acara tersebut sangat informatif dan englightening. Karena satu dan lain hal (meminjam istilah teman traveling saya, Mbak Nana :D), saya dan Mbak Nana terpaksa batal pulang tanggal 24 padahal tiket kereta sudah tinggal dicetak saja. Di tanggal 25 kami punya agenda pergi ke kantor LPDP untuk menanyakan Letter of Guarantee (LoG) saya yang entah mengapa rejected sampai 2 kali.
Karena kami masih ada tanggungan keliling Jakarta, pastinya harus menghemat uang transportasi. Dari yang biasanya memilih naik GrabCar, Gojek, atau GoCar untuk menghemat waktu dan menghindari nyasar, kami beralih ke Busway dan KRL. Ini pelajaran berharga untuk saya yang sama sekali tidak pernah naik angkutan umum tiap datang ke Jakarta. Syukur Alhamdulillah, Mbak Nana bisa diandalkan untuk menjadi 'GPS berjalan' (semoga barokah tuntunannya kemaren, Mbak! :D) Pengalaman traveling saya masih sangat minim, kalau tidak mau dibilang tidak ada sama sekali. Hehehe. Mbak Nana sendiri sudah sering backpacker-an, traveling kesana-kemari, jadi sudah terbiasa dengan kendaraan umum.
Yang namanya naik kendaraan umum, sudah tentu kami harus berjalan kaki untuk mencapai stasiun KRL dan halte Busway. Lha iki. Judge me all you want, sejak SMP saya sudah terbiasa kemana-mana naik motor, entah dibonceng atau menyetir sendiri. Bahkan saat SMA, dengan jarak rumah ke sekolah yang tidak sampai 1 kilometer, saya naik motor tiap berangkat dan pulangnya. Saat kuliah, jarak dari rumah ke kampus memang lumayan, sekitar 10 kilometer. Sehingga naik motor bisa dibenarkan, setidaknya. Kesimpulannya, SAYA HAMPIR TIDAK PERNAH JALAN KAKI JARAK JAUH.
Pengalaman jalan kaki kesana-kemari bersama Mbak Nana di Jakarta itu membuat saya berpikir bahwa motor, GrabCar, Gojek, dan GoCar adalah zona nyaman saya. Berjalan kaki kemana-mana jelas bukan zona nyaman saya. Apalagi saat itu saya harus menenteng tas ransel yang lumayan berat dengan isi laptop dan kebutuhan selama 4 hari, ditambah tas selempang yang isinya juga lumayan bikin ngos-ngosan. Mbak Nana mah tegar, berjalan dengan cepatnya di depan saya, sementara saya beberapa kali berhenti karena sendi bahu rasanya mau lepas dan telapak kaki sudah lecet di bagian bawah jempol. Saya paksakan terus berjalan karena kalau tidak, siapa yang mau menggendong saya dari Pasar Baru ke Stasiun Pasar Senen?!
Bagian happy-nya tentu ada. Saya jadi sadar bahwa saya memang butuh berjalan jauh. Bulan depan InsyaAllah saya sudah di London, dan sebagai Londoner nantinya saya pasti harus jalan kaki kesana-kemari. Jadi pengalaman kaki lecet di Jakarta itu adalah percobaan. Allah SWT memberi sedikit gambaran apa yang harus saya siapkan untuk hidup di negeri orang satu tahun ke depan: kaki dan bahu yang kuat! :D
KELUAR DARI ZONA NYAMAN ITU PENTING, GUYS! This is irrefutable.
P.S. Special thank-you-note untuk Mbak Ginar yang sudah mengizinkan apartemennya dijadikan 'barak penampungan'. :*
Kepada siapapun yang membaca blog ini, saya minta maaf karena tidak rajin menulis. Sebetulnya, overthinking terjadi setiap hari, jadi tidak ada yang namanya situasi 'tidak punya bahan tulisan'. Sayangnya, sudah hampir tiga bulan ini laptop tua milik saya (ACER angkatan 2007) rusak. Benar-benar rusak dan tidak bisa diselamatkan lagi. Jadilah saya 'menumpang' laptop punya adik. Laptop ini pun sesungguhnya sudah waktunya 'cuci otak' karena virus-virus sudah membuat performanya jadi sangat lambat.
Anyway...
Bulan Juni dan Juli kemarin, saya mengunjungi Jakarta lagi. Di bulan Juni, keperluannya adalah untuk mendatangi lapak pemulung di Pasar Minggu, guna menunaikan kewajiban menjadi sukarelawan program Menyapa Indonesia LPDP PK-46. Saya berada di Jakarta dari tanggal 2 sampai tanggal 4. Yang menjadi highlight acara kali ini adalah adik-adik yang kami temui di lapak pemulung tersebut. Sebagian besar dari mereka masih bersekolah SD, sebagian lagi masih belum sekolah. Di hari Sabtu, mereka kami beri materi wawasan kebangsaan, seperti peta Indonesia, makanan dan bahasa daerah, dan beberapa peristiwa bersejarah di daerah. Kemudian di hari Minggu, kami mengajarkan cara membuat kerajinan tangan dari kain flanel dan dakron.
Interaksi selama dua hari itu membuat saya jadi sedikit tahu tentang bagaimana kondisi anak-anak di daerah pinggiran kota Jakarta. Cara bicara mereka berbeda dari anak-anak di daerah tempat saya tinggal, Ponorogo. Mereka lebih lugas alias ceplas-ceplos. Ada beberapa adik yang dengan berani meminta sisa makanan ringan yang kami bagikan untuk dibawa pulang, padahal sebelumnya mereka sudah dapat jatah. Hahaha. Lalu, selama ini saya kira bahasa "elu-gue" itu monopoli orang dewasa ibu kota. Ternyata anak usia TK pun sudah menggunakan bahasa itu untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Yang membuat saya sedikit heran, ada seorang adik yang nginthil terus pada saya, dan akhirnya meminta selfie. Hmm. Anak zaman sekarang memang tidak mungkin tidak kenal selfie, ya?Untungnya kepolosan mereka masih khas anak-anak seusianya. Taruhan, daya tangkap pengetahuan mereka tidak kalah dengan anak-anak yang tinggal di tengah kota. Ada satu adik yang bertanya pada kami:
"Kakak, tahu gedung-gedung yang tinggi di kota? Kakak pernah masuk?"
"Gedung apa?"
"Yang banyak kacanya itu lho!"
"Oooh. Kenapa memangnya?"
"Di dalamnya kayak apa, sih, Kak?"
Saya dan teman saya pun saling berpandangan.
Moving on...
Kunjungan di bulan Juli kemarin bertujuan untuk menghadiri Pre-Departure Briefing yang diadakan oleh British Council di Soehana Hall, di daerah SCBD, tanggal 23 siang. Acara tersebut sangat informatif dan englightening. Karena satu dan lain hal (meminjam istilah teman traveling saya, Mbak Nana :D), saya dan Mbak Nana terpaksa batal pulang tanggal 24 padahal tiket kereta sudah tinggal dicetak saja. Di tanggal 25 kami punya agenda pergi ke kantor LPDP untuk menanyakan Letter of Guarantee (LoG) saya yang entah mengapa rejected sampai 2 kali.
Karena kami masih ada tanggungan keliling Jakarta, pastinya harus menghemat uang transportasi. Dari yang biasanya memilih naik GrabCar, Gojek, atau GoCar untuk menghemat waktu dan menghindari nyasar, kami beralih ke Busway dan KRL. Ini pelajaran berharga untuk saya yang sama sekali tidak pernah naik angkutan umum tiap datang ke Jakarta. Syukur Alhamdulillah, Mbak Nana bisa diandalkan untuk menjadi 'GPS berjalan' (semoga barokah tuntunannya kemaren, Mbak! :D) Pengalaman traveling saya masih sangat minim, kalau tidak mau dibilang tidak ada sama sekali. Hehehe. Mbak Nana sendiri sudah sering backpacker-an, traveling kesana-kemari, jadi sudah terbiasa dengan kendaraan umum.
Yang namanya naik kendaraan umum, sudah tentu kami harus berjalan kaki untuk mencapai stasiun KRL dan halte Busway. Lha iki. Judge me all you want, sejak SMP saya sudah terbiasa kemana-mana naik motor, entah dibonceng atau menyetir sendiri. Bahkan saat SMA, dengan jarak rumah ke sekolah yang tidak sampai 1 kilometer, saya naik motor tiap berangkat dan pulangnya. Saat kuliah, jarak dari rumah ke kampus memang lumayan, sekitar 10 kilometer. Sehingga naik motor bisa dibenarkan, setidaknya. Kesimpulannya, SAYA HAMPIR TIDAK PERNAH JALAN KAKI JARAK JAUH.
Pengalaman jalan kaki kesana-kemari bersama Mbak Nana di Jakarta itu membuat saya berpikir bahwa motor, GrabCar, Gojek, dan GoCar adalah zona nyaman saya. Berjalan kaki kemana-mana jelas bukan zona nyaman saya. Apalagi saat itu saya harus menenteng tas ransel yang lumayan berat dengan isi laptop dan kebutuhan selama 4 hari, ditambah tas selempang yang isinya juga lumayan bikin ngos-ngosan. Mbak Nana mah tegar, berjalan dengan cepatnya di depan saya, sementara saya beberapa kali berhenti karena sendi bahu rasanya mau lepas dan telapak kaki sudah lecet di bagian bawah jempol. Saya paksakan terus berjalan karena kalau tidak, siapa yang mau menggendong saya dari Pasar Baru ke Stasiun Pasar Senen?!
Bagian happy-nya tentu ada. Saya jadi sadar bahwa saya memang butuh berjalan jauh. Bulan depan InsyaAllah saya sudah di London, dan sebagai Londoner nantinya saya pasti harus jalan kaki kesana-kemari. Jadi pengalaman kaki lecet di Jakarta itu adalah percobaan. Allah SWT memberi sedikit gambaran apa yang harus saya siapkan untuk hidup di negeri orang satu tahun ke depan: kaki dan bahu yang kuat! :D
KELUAR DARI ZONA NYAMAN ITU PENTING, GUYS! This is irrefutable.
P.S. Special thank-you-note untuk Mbak Ginar yang sudah mengizinkan apartemennya dijadikan 'barak penampungan'. :*
Senin, 21 Maret 2016
Saya Banyak Bertanya, Salahkah?
Beberapa bulan yang lalu, saya bertanya kepada dua orang teman: Mengapa kalau orang mengunggah foto sedang sholat ke media sosial, kebanyakan di-bully, dibilang pamer, dibilang riya', dibilang tidak sah ibadahnya; sedangkan kalau orang mengunggah foto sedang ritual haji atau umroh, kebanyakan mendapat komentar, "Alhamdulillah, semoga nular ke aku, ya", "Barakallah ya, ukhti/akhi", "Subhanallah, semoga mabrur"? Apakah masalahnya terletak di 'ukuran' ibadahnya? Karena kalau sholat itu ibadah sehari-hari dan affordable untuk seluruh umat Islam, sedangkan kalau umroh atau haji itu ibadah 'besar' membutuhkan biaya yang sedikit dan tidak semua bisa melakukannya lebih dari satu kali? Mengapa jika yang 'sehari-hari' yang diunggah lantas jadi masalah riya' sedangkan jika yang 'besar' bisa diunggah tanpa dihujat? Intinya mengunggah, kan, untuk menunjukkan ke orang lain di media sosial bahwa seseorang tersebut SUDAH beribadah. Iya, kan? Saya tidak mengerti, bahkan sampai saat menulis postingan ini pun saya belum menemukan jawabnya.
Dalam obrolan tersebut satu teman saya menjadi ikut menebak-nebak apa gerangan penyebabnya. Sedangkan teman saya yang satunya berbeda. Dia justru melontarkan komentar telak, "Kamu selalu begini. Sering merepotkan hal-hal yang bukan urusanmu, yang tidak penting untuk kamu pikirkan. Kalau orang mengunggah foto sholat atau foto umroh atau haji, apa ruginya buat kamu? Tidak ada kan? Lalu mengapa kamu memusingkannya? Tidak suka ya tidak usah dilihat." Tak pelak, saya tertohok. Lalu saya melanjutkan, "Ini bukan urusan suka atau tidak suka. Aku hanya ingin mengerti, mengapa ibadah yang satunya dihujat ketika ditunjukkan, sedangkan yang lain tidak."
"Tidak semua hal di dunia ini harus kamu mengerti atau pahami, Maz." tutup teman saya tadi. Obviously, that got me thinking. Apa iya? Apakah usaha untuk mencoba mengerti sekalipun hal itu 'tidak penting' untuk saya juga tidak perlu dilakukan, tidak worth a try?
Obrolan tersebut membuat saya kepikiran sampai berminggu-minggu. Apa iya saya ini sering merepotkan hal-hal yang tidak penting untuk saya? Apa iya pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran saya sebenarnya banyak yang tidak perlu saya pusingkan? Memang, pertanyaan soal ibadah di atas bukan secara langsung urusan saya, karena bukan foto saya yang jadi bahan pembicaraan. Benar apa yang dibilang teman saya, foto ibadah orang lain tidak merugikan saya.
Sayangnya, saya adalah tipe orang yang tidak bisa tidak bertanya-tanya ketika melihat sesuatu yang ganjil atau tidak biasa. Simpelnya 'mudah terganggu'. Ketika menonton acara televisi yang menurut saya tidak ada 'isinya' sama sekali tapi begitu banyak penggemarnya, saya mengernyit, "Kok bisa? Mengapa?" Ketika melihat banyak orang mengunggah foto luka yang berlumuran darah atau lengan yang diinfus, saya juga langsung berpikir, "Mengapa ada orang yang ingin menunjukkan kalau dia sedang susah? Dengan gambar infus atau luka yang berdarah-darah? Apa yang mendorong mereka melakukannya?" Sederhana sebenarnya, saya sedang mencoba paham. Orang bijak mengatakan bahwa janganlah membenci apa yang tidak kita pahami. Maka jadilah, saya mencoba memahami dengan memikirkannya.
Kemudian saya bertanya kepada my significant other, Ian, tentang apakah diri ini memang terlalu banyak bertanya-tanya, memikirkan sesuatu yang tidak penting; tentang apakah memang jika sesuatu tidak merugikan saya, lantas tidak perlu dipertanyakan? Dia menjawab panjang lebar, menjelaskan bahwa intinya saya memang terlalu banyak bertanya dan harus memilih-milih kepada siapa saya mengungkapkan pertanyaan itu. Apa yang saya pikirkan belum tentu dipikirkan orang lain, dan mengutarakannya kepada orang lain juga bisa membuat mereka tak nyaman. Menurut Ian, yang terjadi dalam obrolan saya dengan dua teman di atas adalah karena saya memilih orang yang salah untuk diajak berdiskusi. Ian paham bahwa arah pertanyaan saya bisa diteruskan menjadi diskusi budaya, seperti halnya saya mempertanyakan tren maternity shots yang marak di Instagram (yang kalau dipikir-pikir sebenarnya juga tidak merugikan saya), dan menyarankan jika lain kali ingin berdiskusi tentang suatu fenomena budaya dan bukannya 'dibunuh dengan telak' tanpa jawaban, saya harus menanyakan hal tersebut pada orang yang memiliki interest yang sama dengan saya. Jelas bahwa teman saya tadi tidak memiliki interest yang sama, karena terbukti diskusi tidak berjalan.
Jadi, kesimpulannya: tidak ada salahnya banyak bertanya, banyak berpikir, banyak 'terganggu'. Yang tidak merugikan kita belum tentu tidak salah. Yang bukan urusan kita belum tentu tidak layak dipertanyakan. Asalkan pertanyaannya bisa diarahkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Asalkan kita memilih orang yang tepat untuk bertanya.
Anyway, ada yang bisa menjawab pertanyaan tentang perbedaan foto sholat dengan foto haji/umroh di media sosial?
Until next time!
Dalam obrolan tersebut satu teman saya menjadi ikut menebak-nebak apa gerangan penyebabnya. Sedangkan teman saya yang satunya berbeda. Dia justru melontarkan komentar telak, "Kamu selalu begini. Sering merepotkan hal-hal yang bukan urusanmu, yang tidak penting untuk kamu pikirkan. Kalau orang mengunggah foto sholat atau foto umroh atau haji, apa ruginya buat kamu? Tidak ada kan? Lalu mengapa kamu memusingkannya? Tidak suka ya tidak usah dilihat." Tak pelak, saya tertohok. Lalu saya melanjutkan, "Ini bukan urusan suka atau tidak suka. Aku hanya ingin mengerti, mengapa ibadah yang satunya dihujat ketika ditunjukkan, sedangkan yang lain tidak."
"Tidak semua hal di dunia ini harus kamu mengerti atau pahami, Maz." tutup teman saya tadi. Obviously, that got me thinking. Apa iya? Apakah usaha untuk mencoba mengerti sekalipun hal itu 'tidak penting' untuk saya juga tidak perlu dilakukan, tidak worth a try?
Obrolan tersebut membuat saya kepikiran sampai berminggu-minggu. Apa iya saya ini sering merepotkan hal-hal yang tidak penting untuk saya? Apa iya pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran saya sebenarnya banyak yang tidak perlu saya pusingkan? Memang, pertanyaan soal ibadah di atas bukan secara langsung urusan saya, karena bukan foto saya yang jadi bahan pembicaraan. Benar apa yang dibilang teman saya, foto ibadah orang lain tidak merugikan saya.
Sayangnya, saya adalah tipe orang yang tidak bisa tidak bertanya-tanya ketika melihat sesuatu yang ganjil atau tidak biasa. Simpelnya 'mudah terganggu'. Ketika menonton acara televisi yang menurut saya tidak ada 'isinya' sama sekali tapi begitu banyak penggemarnya, saya mengernyit, "Kok bisa? Mengapa?" Ketika melihat banyak orang mengunggah foto luka yang berlumuran darah atau lengan yang diinfus, saya juga langsung berpikir, "Mengapa ada orang yang ingin menunjukkan kalau dia sedang susah? Dengan gambar infus atau luka yang berdarah-darah? Apa yang mendorong mereka melakukannya?" Sederhana sebenarnya, saya sedang mencoba paham. Orang bijak mengatakan bahwa janganlah membenci apa yang tidak kita pahami. Maka jadilah, saya mencoba memahami dengan memikirkannya.
Kemudian saya bertanya kepada my significant other, Ian, tentang apakah diri ini memang terlalu banyak bertanya-tanya, memikirkan sesuatu yang tidak penting; tentang apakah memang jika sesuatu tidak merugikan saya, lantas tidak perlu dipertanyakan? Dia menjawab panjang lebar, menjelaskan bahwa intinya saya memang terlalu banyak bertanya dan harus memilih-milih kepada siapa saya mengungkapkan pertanyaan itu. Apa yang saya pikirkan belum tentu dipikirkan orang lain, dan mengutarakannya kepada orang lain juga bisa membuat mereka tak nyaman. Menurut Ian, yang terjadi dalam obrolan saya dengan dua teman di atas adalah karena saya memilih orang yang salah untuk diajak berdiskusi. Ian paham bahwa arah pertanyaan saya bisa diteruskan menjadi diskusi budaya, seperti halnya saya mempertanyakan tren maternity shots yang marak di Instagram (yang kalau dipikir-pikir sebenarnya juga tidak merugikan saya), dan menyarankan jika lain kali ingin berdiskusi tentang suatu fenomena budaya dan bukannya 'dibunuh dengan telak' tanpa jawaban, saya harus menanyakan hal tersebut pada orang yang memiliki interest yang sama dengan saya. Jelas bahwa teman saya tadi tidak memiliki interest yang sama, karena terbukti diskusi tidak berjalan.
Jadi, kesimpulannya: tidak ada salahnya banyak bertanya, banyak berpikir, banyak 'terganggu'. Yang tidak merugikan kita belum tentu tidak salah. Yang bukan urusan kita belum tentu tidak layak dipertanyakan. Asalkan pertanyaannya bisa diarahkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Asalkan kita memilih orang yang tepat untuk bertanya.
Anyway, ada yang bisa menjawab pertanyaan tentang perbedaan foto sholat dengan foto haji/umroh di media sosial?
Until next time!
Sabtu, 14 November 2015
PK-46 BPI LPDP: Cerita Anak Kota Kecil Dengan Pengalaman Besar
Persiapan Keberangkatan-46, atau biasa disingkat PK-46, yang diselenggarakan oleh LPDP untuk para awardee angkatan 46 sudah berakhir satu minggu yang lalu. Sudah hampir seminggu pula saya kembali di rumah Ponorogo. Berbagai pelajaran dan kenangan dari PK-46 sudah saya letakkan dengan rapi di laci-laci benak, dan siap dibuka lagi kapanpun saya butuhkan. Beberapa di antaranya saya ingin bagikan di sini, di blog yang pembacanya cuma teman-teman kuliah dulu ini. Hehe.
***
Saya tiba di Jakarta pada 30 Oktober malam dan langsung menginap di tempat sahabat saya semasa SMP, Tita, di daerah Ragunan. Besoknya, saya pergi ke Wisma Hijau untuk kumpul-kumpul pra-PK; bertemu sapa dengan teman satu kelompok, latihan yel-yel, latihan lagu angkatan dan mars LPDP. Teman-teman satu angkatan datang dari berbagai latar belakang keilmuan dan asal-usul. Usia kami tidak seragam, bahkan ada yang sudah menjadi dekan di kampus tempatnya mengabdi. Hebatnya, beliau-beliau yang terhitung senior tidak enggan membaur dengan yang muda, berbagi ide, dan memainkan yel-yel yang bisa jadi terkesan so juvenile. Keren! Yang muda pun tidak segan bercanda dengan yang senior, dan hal ini membuat atmosfir angkatan menjadi menyenangkan. Ketika diberi arahan untuk berjoget, semua berjoget. Ketika diberi arahan untuk menyanyi, semua menyanyi.
Kebetulan ada teman satu kelompok saya yang bertahun-tahun sebelumnya sudah pernah saya stalk lewat Facebook. Namanya Mbak Ginar Santika. Kok bisa?
Dulu ketika saya baru masuk kuliah S1, program Indonesia Mengajar baru diselenggarakan. Karena saat itu saya baru masuk kuliah S1, hasrat untuk ikut program ini dan menjajal diri untuk mengajar di daerah terpencil masih tertahan. Saya ini kalau sudah ingin mendapatkan sesuatu, segala tentang sesuatu itu pasti saya cari-cari dan jadikan motivasi untuk meraihnya. Berkaitan dengan keinginan ikut Indonesia Mengajar itu, saya akhirnya meng-add akun Facebook sebagian besar Pengajar Muda Angkatan 1. Tujuannya cuma satu: SAYA KEPO. Saya ingin tahu orang yang seperti apa yang diterima sebagai Pengajar Muda, saya ingin tahu prestasi apa yang mereka pernah raih, saya ingin tahu bagaimana cara mereka berkontribusi untuk komunitas yang mereka layani; intinya saya ingin menjadikan mereka motivasi untuk menjadi lebih baik. Siapa tahu ketika saya lulus S1 nanti berkesempatan untuk ikut seleksi Indonesia Mengajar.
Waktu bertemu Mbak Ginar, rasanya saya sudah tidak asing dengan nama ini, seperti sudah pernah mengenal nama ini. Benar saja! Waktu istirahat tiba dan saya akhirnya bisa ngobrol-ngobrol santai dengan teman-teman satu kelompok, Mbak Ginar memberitahu bahwa dia adalah Pengajar Muda Angkatan 1! Allahu Akbar! What are the odds! Saya pernah stalking akun Facebook Mbak Ginar sekitar 5 tahun yang lalu! Lalu saya menanyakan kabar pengajar-pengajar muda angkatan 1 yang lain yang saya sering temui di beranda Facebook. Mungkin waktu itu saya terkesan creepy, ya, Mbak? Kenal juga enggak, tapi tahu banyak sekali tentang mereka. Hehe. Maafkeun.
Memang saya tidak ditakdirkan untuk jadi Pengajar Muda seperti yang pernah saya impikan dulu, tapi akhirnya saya dipertemukan dengan salah satu Pengajar Muda angkatan 1 yang pernah saya stalking dulu, lewat LPDP. Hehe.
Sebetulnya, kejadian itu sempat membuat saya minder. Seorang purna Pengajar Muda seperti Mbak Ginar ada di LPDP. Teman-teman lain PK-46 juga hebat-hebat. Kontribusi mereka sudah nyata untuk Indonesia, sesuai dengan apa yang diharapkan LPDP. Sedangkan saya? Ya Allaaah...belum jadi apa-apa. Saya baru lulus S1 tahun kemarin dan belum pernah bekerja di sektor yang kontributif untuk negeri ini. Saya jadi meragukan diri sendiri waktu itu. Apalagi sebagian besar dari kawan PK-46 berasal dari jurusan eksak, bukan budaya seperti saya.
Untunglaaaaah...ketika saya mencurahkan isi hati ini kepada teman sekamar saya di Wisma Hijau, Mbak Nana dan Nina, mereka menyemangati saya dan menyebutkan banyak kawan yang juga berasal dari latar belakang pendidikan budaya. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk merasa minder.
Selama satu minggu kemudian, kami satu angkatan mendapatkan banyak sekali pelajaran dari program Persiapan Keberangkatan ini. Kami jadi lebih mencintai tanah air dan bertekad berkontribusi untuk pembangunan bangsa sebagai "satria cendekia yang siap berkarya". Kami mendapatkan keluarga baru yang kocak-kocak, ramah-ramah, unik-unik, yang sampai sekarang masih rutin heboh bertukar cerita dan gosip di akun LINE angkatan. Sebagai seorang anak kota kecil, pengalaman ini terasa begitu besar bagi saya. Oh iya, (sebenarnya saya sedikit malu mengakuinya) saya jadi belajar berbahasa Indonesia dalam keseharian selama menjalani PK. Sebelumnya saya hampir selalu berbahasa Jawa karena kehidupan saya ya berputar di sekitar-sekitar Jawa Timur saja. Sampai-sampai supir taksi yang saya naiki di Minggu pagi tanggal 1 November bertanya, "Mbak, dari Jawa, ya? Jawa Timur?" hanya karena logat Jawa saya yang kental sekali. Hahaha.
Untuk teman-teman sesama orang Jawa Timur, sering-seringlah ikut acara nasional, bisa berupa seminar, konferensi, atau acara volunteer yang mempertemukan kalian dengan teman-teman dari seluruh daerah di Indonesia, supaya bahasa Indonesia kalian terasah secara lisan. Karena kemarin saya agak kesulitan sejujurnya (atau saya-nya saja yang kelewat ndeso).
Till the next time I write again!
***
Saya tiba di Jakarta pada 30 Oktober malam dan langsung menginap di tempat sahabat saya semasa SMP, Tita, di daerah Ragunan. Besoknya, saya pergi ke Wisma Hijau untuk kumpul-kumpul pra-PK; bertemu sapa dengan teman satu kelompok, latihan yel-yel, latihan lagu angkatan dan mars LPDP. Teman-teman satu angkatan datang dari berbagai latar belakang keilmuan dan asal-usul. Usia kami tidak seragam, bahkan ada yang sudah menjadi dekan di kampus tempatnya mengabdi. Hebatnya, beliau-beliau yang terhitung senior tidak enggan membaur dengan yang muda, berbagi ide, dan memainkan yel-yel yang bisa jadi terkesan so juvenile. Keren! Yang muda pun tidak segan bercanda dengan yang senior, dan hal ini membuat atmosfir angkatan menjadi menyenangkan. Ketika diberi arahan untuk berjoget, semua berjoget. Ketika diberi arahan untuk menyanyi, semua menyanyi.
Kebetulan ada teman satu kelompok saya yang bertahun-tahun sebelumnya sudah pernah saya stalk lewat Facebook. Namanya Mbak Ginar Santika. Kok bisa?
Dulu ketika saya baru masuk kuliah S1, program Indonesia Mengajar baru diselenggarakan. Karena saat itu saya baru masuk kuliah S1, hasrat untuk ikut program ini dan menjajal diri untuk mengajar di daerah terpencil masih tertahan. Saya ini kalau sudah ingin mendapatkan sesuatu, segala tentang sesuatu itu pasti saya cari-cari dan jadikan motivasi untuk meraihnya. Berkaitan dengan keinginan ikut Indonesia Mengajar itu, saya akhirnya meng-add akun Facebook sebagian besar Pengajar Muda Angkatan 1. Tujuannya cuma satu: SAYA KEPO. Saya ingin tahu orang yang seperti apa yang diterima sebagai Pengajar Muda, saya ingin tahu prestasi apa yang mereka pernah raih, saya ingin tahu bagaimana cara mereka berkontribusi untuk komunitas yang mereka layani; intinya saya ingin menjadikan mereka motivasi untuk menjadi lebih baik. Siapa tahu ketika saya lulus S1 nanti berkesempatan untuk ikut seleksi Indonesia Mengajar.
Waktu bertemu Mbak Ginar, rasanya saya sudah tidak asing dengan nama ini, seperti sudah pernah mengenal nama ini. Benar saja! Waktu istirahat tiba dan saya akhirnya bisa ngobrol-ngobrol santai dengan teman-teman satu kelompok, Mbak Ginar memberitahu bahwa dia adalah Pengajar Muda Angkatan 1! Allahu Akbar! What are the odds! Saya pernah stalking akun Facebook Mbak Ginar sekitar 5 tahun yang lalu! Lalu saya menanyakan kabar pengajar-pengajar muda angkatan 1 yang lain yang saya sering temui di beranda Facebook. Mungkin waktu itu saya terkesan creepy, ya, Mbak? Kenal juga enggak, tapi tahu banyak sekali tentang mereka. Hehe. Maafkeun.
Memang saya tidak ditakdirkan untuk jadi Pengajar Muda seperti yang pernah saya impikan dulu, tapi akhirnya saya dipertemukan dengan salah satu Pengajar Muda angkatan 1 yang pernah saya stalking dulu, lewat LPDP. Hehe.
Sebetulnya, kejadian itu sempat membuat saya minder. Seorang purna Pengajar Muda seperti Mbak Ginar ada di LPDP. Teman-teman lain PK-46 juga hebat-hebat. Kontribusi mereka sudah nyata untuk Indonesia, sesuai dengan apa yang diharapkan LPDP. Sedangkan saya? Ya Allaaah...belum jadi apa-apa. Saya baru lulus S1 tahun kemarin dan belum pernah bekerja di sektor yang kontributif untuk negeri ini. Saya jadi meragukan diri sendiri waktu itu. Apalagi sebagian besar dari kawan PK-46 berasal dari jurusan eksak, bukan budaya seperti saya.
Untunglaaaaah...ketika saya mencurahkan isi hati ini kepada teman sekamar saya di Wisma Hijau, Mbak Nana dan Nina, mereka menyemangati saya dan menyebutkan banyak kawan yang juga berasal dari latar belakang pendidikan budaya. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk merasa minder.
Selama satu minggu kemudian, kami satu angkatan mendapatkan banyak sekali pelajaran dari program Persiapan Keberangkatan ini. Kami jadi lebih mencintai tanah air dan bertekad berkontribusi untuk pembangunan bangsa sebagai "satria cendekia yang siap berkarya". Kami mendapatkan keluarga baru yang kocak-kocak, ramah-ramah, unik-unik, yang sampai sekarang masih rutin heboh bertukar cerita dan gosip di akun LINE angkatan. Sebagai seorang anak kota kecil, pengalaman ini terasa begitu besar bagi saya. Oh iya, (sebenarnya saya sedikit malu mengakuinya) saya jadi belajar berbahasa Indonesia dalam keseharian selama menjalani PK. Sebelumnya saya hampir selalu berbahasa Jawa karena kehidupan saya ya berputar di sekitar-sekitar Jawa Timur saja. Sampai-sampai supir taksi yang saya naiki di Minggu pagi tanggal 1 November bertanya, "Mbak, dari Jawa, ya? Jawa Timur?" hanya karena logat Jawa saya yang kental sekali. Hahaha.
Untuk teman-teman sesama orang Jawa Timur, sering-seringlah ikut acara nasional, bisa berupa seminar, konferensi, atau acara volunteer yang mempertemukan kalian dengan teman-teman dari seluruh daerah di Indonesia, supaya bahasa Indonesia kalian terasah secara lisan. Karena kemarin saya agak kesulitan sejujurnya (atau saya-nya saja yang kelewat ndeso).
Till the next time I write again!
Sabtu, 17 Oktober 2015
Menyoal Teman yang "Hobinya" Merendahkan
Wah...sudah lagi sebulan sejak postingan yang terakhir. Apa kabar semuanya? Yang di belakang, mana suaranyaaaaaaa? *kemudian disetrum microphone
Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan order terjemahan yang lumayan menggila, dan tugas-tugas pra-PK BPI LPDP yang juga menggila berkali-kali lipat. Haha. Saya masuk PK-46, by the way. Nama kami Sajayantara. Ada sedikit isu insecurity yang saya alami ketika tahu masuk PK-46. Kami satu angkatan diharuskan untuk mempunyai akun LinkedIn yang sophisticated, dengan jumlah koneksi satu angkatan minimal 100 orang, dengan total koneksi awardee LPDP minimal 200. Saya pun mengedit akun LinkedIn saya di sana-sini supaya terlihat layak. Begitu kami satu angkatan sudah saling menambahkan koneksi, saya cek profil teman-teman satu per satu. Dan...saya semakin merasa kecil, bukan apa-apa, hanyalah sebutir biji kurma di antara semangka-semangka yang segar.
Teman-teman satu angkatan datang dari beragam latar belakang, dan yang paling saya perhatikan adalah latar belakang profesional mereka. Ya Allah...ada yang masa kerjanya di instansi bergengsi sudah 10 tahun, ada yang sudah keliling dunia lewat berbagai program pertukaran belajar, ada yang sudah bekerja di sana-sini dengan track record yang ciamik. Siapalah saya ini di antara mereka? *melorot dari kursi
Alhamdulillah saya diberi kesempatan mengenal orang-orang hebat seperti mereka! :')
***
Lepas dari sekelumit cerita pra-PK, beberapa minggu yang lalu, salah seorang teman kuliah dulu menceritakan sesuatu yang membuat saya sedikit terhenyak. Teman saya ini sedang menyusun strategi untuk mendaftar BPI LPDP Periode 4, yang terakhir, tahun ini. Setelah berminggu-minggu mengobrol intens soal esai, kampus, dan trik sukses BPI LPDP, dia ini tiba-tiba menghilang. Sulit dihubungi, dia juga tidak menghubungi saya duluan. Saya curiga jangan-jangan semangatnya mengejar beasiswa sudah pudar.
Beberapa hari kemudian setelah itu, dia kembali menghubungi saya. Dan benar saja, dia sempat kehilangan motivasi kuliah S2 gara-gara omongan seorang kawannya. Inti dari omongan kawan teman saya tersebut adalah bahwa jurusan kami (saya dan teman saya) ini tidak ada gunanya, tidak signifikan, dan tidak worth-pursuing. Saya kaget setengah mati! Ada, ya, teman yang begitu itu selain di sinetron dan FTV? Di saat temannya menceritakan impian beasiswa S2 ke luar negeri, dia justru mematahkan semangat dengan bilang jurusan yang diambilnya TIDAK BERGUNA. Lalu teman saya tadi lanjut menceritakan bahwa si kawan ini sebetulnya tidak terlalu bisa bahasa Inggris, malahan terkesan sok bisa. Saya langsung paham, "Oh."
Memang ada saja tipe orang yang seperti ini. Tidak terlalu bisa, tidak menguasai sesuatu, lalu iri melihat orang lain yang bisa dan mempunyai cita-cita besar, akhirnya berusaha menjatuhkan orang lain tersebut untuk menutupi insecurity-nya sendiri. Kejam? Tega? Gila? Memang. Orang seperti ini harusnya diracun semprotan nyamuk!
Saya lantas sedikit memarahi teman saya ini. Bagaimana dia bisa tangguh berjuang mendapatkan beasiswa, dan menyelesaikan kuliahnya nanti jika diterima, kalau sedikit terjangan angin dari teman yang iri hati begitu sudah membuatnya putus asa? Sudah mematahkan motivasinya? "Kalau jurusan kita tidak signifikan, mana mungkin kakak-kakak tingkat kita yang konsentrasinya Sastra Inggris juga bisa dapat beasiswa? Mereka dapat beasiswa karena pemberi beasiswa melihat signifikansi risetnya. LPDP memberi saya dan teman-teman Sastra Inggris lain beasiswa karena percaya kami bisa membawa perubahan yang baik untuk negara, lewat jurusan ini,", begitu kurang lebih ucapan saya kepadanya. Dia kemudian sadar bahwa tidak seharusnya satu mulut pedas seorang ignorant mematahkan semangatnya, dan kembali berjuang sampai hari menjelang deadline BPI LPDP Periode 4 ini (deadline 19 Oktober 2015).
Kita semua pasti sudah diajari waktu SD, dilarang memilih-milih teman. Tapi kalau bertemu teman yang senangnya merendahkan orang lain seperti kawan teman saya itu, dorong saja ke Sungai Ciliwung!
Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan order terjemahan yang lumayan menggila, dan tugas-tugas pra-PK BPI LPDP yang juga menggila berkali-kali lipat. Haha. Saya masuk PK-46, by the way. Nama kami Sajayantara. Ada sedikit isu insecurity yang saya alami ketika tahu masuk PK-46. Kami satu angkatan diharuskan untuk mempunyai akun LinkedIn yang sophisticated, dengan jumlah koneksi satu angkatan minimal 100 orang, dengan total koneksi awardee LPDP minimal 200. Saya pun mengedit akun LinkedIn saya di sana-sini supaya terlihat layak. Begitu kami satu angkatan sudah saling menambahkan koneksi, saya cek profil teman-teman satu per satu. Dan...saya semakin merasa kecil, bukan apa-apa, hanyalah sebutir biji kurma di antara semangka-semangka yang segar.
Teman-teman satu angkatan datang dari beragam latar belakang, dan yang paling saya perhatikan adalah latar belakang profesional mereka. Ya Allah...ada yang masa kerjanya di instansi bergengsi sudah 10 tahun, ada yang sudah keliling dunia lewat berbagai program pertukaran belajar, ada yang sudah bekerja di sana-sini dengan track record yang ciamik. Siapalah saya ini di antara mereka? *melorot dari kursi
Alhamdulillah saya diberi kesempatan mengenal orang-orang hebat seperti mereka! :')
***
Lepas dari sekelumit cerita pra-PK, beberapa minggu yang lalu, salah seorang teman kuliah dulu menceritakan sesuatu yang membuat saya sedikit terhenyak. Teman saya ini sedang menyusun strategi untuk mendaftar BPI LPDP Periode 4, yang terakhir, tahun ini. Setelah berminggu-minggu mengobrol intens soal esai, kampus, dan trik sukses BPI LPDP, dia ini tiba-tiba menghilang. Sulit dihubungi, dia juga tidak menghubungi saya duluan. Saya curiga jangan-jangan semangatnya mengejar beasiswa sudah pudar.
Beberapa hari kemudian setelah itu, dia kembali menghubungi saya. Dan benar saja, dia sempat kehilangan motivasi kuliah S2 gara-gara omongan seorang kawannya. Inti dari omongan kawan teman saya tersebut adalah bahwa jurusan kami (saya dan teman saya) ini tidak ada gunanya, tidak signifikan, dan tidak worth-pursuing. Saya kaget setengah mati! Ada, ya, teman yang begitu itu selain di sinetron dan FTV? Di saat temannya menceritakan impian beasiswa S2 ke luar negeri, dia justru mematahkan semangat dengan bilang jurusan yang diambilnya TIDAK BERGUNA. Lalu teman saya tadi lanjut menceritakan bahwa si kawan ini sebetulnya tidak terlalu bisa bahasa Inggris, malahan terkesan sok bisa. Saya langsung paham, "Oh."
Memang ada saja tipe orang yang seperti ini. Tidak terlalu bisa, tidak menguasai sesuatu, lalu iri melihat orang lain yang bisa dan mempunyai cita-cita besar, akhirnya berusaha menjatuhkan orang lain tersebut untuk menutupi insecurity-nya sendiri. Kejam? Tega? Gila? Memang. Orang seperti ini harusnya diracun semprotan nyamuk!
Saya lantas sedikit memarahi teman saya ini. Bagaimana dia bisa tangguh berjuang mendapatkan beasiswa, dan menyelesaikan kuliahnya nanti jika diterima, kalau sedikit terjangan angin dari teman yang iri hati begitu sudah membuatnya putus asa? Sudah mematahkan motivasinya? "Kalau jurusan kita tidak signifikan, mana mungkin kakak-kakak tingkat kita yang konsentrasinya Sastra Inggris juga bisa dapat beasiswa? Mereka dapat beasiswa karena pemberi beasiswa melihat signifikansi risetnya. LPDP memberi saya dan teman-teman Sastra Inggris lain beasiswa karena percaya kami bisa membawa perubahan yang baik untuk negara, lewat jurusan ini,", begitu kurang lebih ucapan saya kepadanya. Dia kemudian sadar bahwa tidak seharusnya satu mulut pedas seorang ignorant mematahkan semangatnya, dan kembali berjuang sampai hari menjelang deadline BPI LPDP Periode 4 ini (deadline 19 Oktober 2015).
Kita semua pasti sudah diajari waktu SD, dilarang memilih-milih teman. Tapi kalau bertemu teman yang senangnya merendahkan orang lain seperti kawan teman saya itu, dorong saja ke Sungai Ciliwung!
Senin, 14 September 2015
Cerita Berburu Beasiswa BPI LPDP: Part III
Tanggal 9 September 2015 malam sampai 10 September 2015 dini hari, saya tidak bisa tidur. Hampir setiap dua jam sekali saya terbangun untuk mengecek email dan website LPDP. Saya juga mengecek halaman Facebook LPDP, siapa tahu ada pengumuman juga di sana. Sampai matahari terbit, sudah tak terhitung berapa kali saya mengecek email dan website LPDP. Sampai pada jam 10 pagi, saya menyerah. Ya sudahlah, mungkin pengumumannya nanti malam. Mau dicek bolak-balik juga tidak akan membuahkan hasil.
Kemudian, jam satu siang Ibu pulang mengajar, "Sudah keluar pengumumannya, Nduk?" Beliau bertanya dengan tergopoh-gopoh.
"Enggak tahu, Ma. Dari tadi pagi aku cek belum keluar terus."
Lalu, Nina, adek paling kecil yang saat itu sedang memakai laptop saya, saya suruh minggir sebentar. Saya langsung membuka inbox akun Gmail saya. Debar jantung saya menjadi tak beraturan ketika melihat ada subyek pengirim 'LPDP Beasiswa'. Sambil menyerukan, "Bismillahirrohmanirrahim!", saya mengklik pesan tersebut. Saya langsung mencari tulisan apapun yang dibesarkan, tanpa membaca pembukaan di atasnya. Tulisan LULUS langsung membuat jantung saya berhenti sepersekian detik. Kemudian saya berdiri, berlari memeluk Ibu sambil berteriak-teriak dalam tangis bahagia, "Ma, lulus, Ma! Lulus! Alhamdulillaaah!" Saat itu ada Bulik juga di rumah, beliau pun ikut menangis gembira.
Ya Allah...Alhamdulillaaah! Saya percaya doa yang baik dan penuh kesungguhan tidak akan pernah mental. Rejeki yang super dari Allah SWT yang selalu super!
***
Berikut tips yang ingin saya bagi untuk teman-teman yang sedang mengejar beasiswa BPI LPDP Magister dan Doktoral juga:
1. Mulai dari penyusunan esai, kita harus sudah mempersiapkan topik dan bahasan disertasi yang akan kita persembahkan untuk pembangunan Indonesia, karena beasiswa LPDP ini latar belakangnya adalah untuk membangun Indonesia Emas di tahun 2045.
2. Dasarkan melamar beasiswa ini karena kita mencintai riset yang pernah dan akan kita lakukan. Tujuan riset kita harus konkrit, memberikan keuntungan bagi bangsa, dan efek yang direncanakan bisa diwujudkan lewat kegiatan yang nyata.
3. Pesan dari Mbak Zia, kurang-kurangi personal benefits di tiap esai kita. Tekankan bahwa semua yang kita usahakan dalam proses belajar nanti adalah untuk Indonesia, bukan keunggulan diri kita sendiri.
4. Pesan dari Fida, tunjukkan kerendahan hati dalam tiap esai kita.
5. Perbanyak membaca artikel dan jurnal ilmiah, supaya nanti saat wawancara kita punya back-up dalam menyusun argumen pertanyaan-pertanyaan substantif mengenai riset kita. Seperti saya kemarin, ketika ditanya soal mengapa saya menganggap maternity shot sebagai bentuk dari eksploitasi seksual perempuan, saya mengambil pendapat Dewi Candraningrum yang dia tulis di blog Jurnal Perempuan mengenai rahim wanita yang kini seolah menjadi milik publik, untuk mendukung argumen saya. Sadari bahwa kita semua bukan pemikir tunggal, karena tiap pemikiran selalu terinspirasi dari pemikiran lain yang sudah ada sebelumnya. Intinya, rendahkan hati.
6. Saat wawancara, pastikan kita mengingat betul isi esai-esai kita supaya jawaban kita sinkron dengan kontennya. Pewawancara akan tahu apabila esai yang kita buat tidak tulus atau malah dibuatkan oleh orang lain.
7. Pastikan kita teguh pendirian. Pewawancara akan mencoba melihat seberapa ngoyo kita berusaha mempertahankan argumen kita, tentunya dengan tata cara yang benar dan pemahaman yang sesuai.
8. Saat mengikuti on-the-spot essay writing, pastikan kita tidak membuang-buang waktu di paragraf pembukaan. Beri porsi yang seimbang untuk tiap bagian; pembukaan, isi, penutup. Hindari berusaha memberi kesan bahwa kita pintar, because trying hard hardly turns out good.
9. Saat menjalankan LGD, hindari berusaha terlihat menonjol dengan berbicara terlalu banyak dan menguasai jalannya diskusi. Pikirkan pendapat yang solutif (kata Mbak Zia), sampaikan dengan seperlunya dan hindari 'menerjang' pendapat anggota lain. Persilakan yang lain untuk berpendapat, tanyakan apa pendapat mereka, karena LGD bukanlah your one-man show.
10. Berdoa, berdoa, dan berdoa. Pilih waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Perhatikan adab dalam berdoa. Berusaha tanpa doa itu sombong, berdoa tanpa usaha itu bodoh. Tuhan tak pernah ingkar janji.
Terima kasih banyak sudah membaca sampai Part III! Semoga sukses dan keberkahan menyertai kita semua!
Cerita Berburu Beasiswa BPI LPDP: Part II
Setelah mendapatkan pengumuman lolos seleksi administrasi, saya langsung menghubungi sahabat yang tinggal di Surabaya. Berniat menumpang, ceritanya. Saya sudah banyak merepotkan sahabat yang namanya Kustin ini dari zaman kuliah. Haha. Bahkan saat sedang mengikuti teacher training dulu saya juga menumpang di kos dia (I kinda owe you a lot!). Saya datang di Surabaya tanggal 25 Agustus 2015 jam 2 siang. Malam harinya, saya kembali merepotkan Kustin untuk mencari-cari lokasi seleksi substantif yaitu Gedung Keuangan Negara, Jl. Indrapura No. 5, Surabaya. Ternyata lokasinya cukup jauh dari tempat kos Kustin yang berada di Jl. Mayjen Sungkono. Saya langsung menyiapkan mental untuk berangkat pagi-pagi sekali esok harinya.
Jam setengah 7 pagi saya sudah berada di tengah padatnya jalanan pagi Surabaya demi mengejar cita-cita. Anehnya, saat malam sebelumnya saya masih mencari-cari alamat GKN Surabaya, saya merasa jaraknya sangat jauh dari tempat kos Kustin. Namun, begitu pagi saya berangkat dengan yakin, ternyata tidak sampai 15 menit kemudian saya sudah sampai di lokasi seleksi.
Terlalu pagi? Jelas. Untungnya sudah ada beberapa teman seperjuangan yang tiba di tempat parkir sehingga saya tak perlu mencari-cari ruangan seleksi sendirian. Ruang berkumpulnya peserta sekaligus tempat verifikasi dokumen ada di lantai 7, ruang pengerjaan esai ada di lantai 3, dan ruang diskusi grup ada di lantai 2. Karena masih terlalu pagi dan acara baru dimulai jam 8 pagi, akhirnya saya sempatkan tidur lagi di kursi peserta. Haha. Mumpung masih sepi, begitu pikir saya. Begitu saya bangun, peserta sudah banyak, dan saya gelagapan karena kursi-kursi di sebelah dan depan saya sudah berpenghuni. Ups!
Saya mendapatkan jadwal verifikasi dokumen jam 10 pagi dan wawancara pada jam setengah 2 siang. Di sana saya bertemu dengan Mas Irul, kakak tingkat saya di kampus dulu. Dia mendapatkan jadwal wawancara lebih dulu daripada saya, akhirnya saya menunggu sendirian lagi. Saat proses verifikasi, saya hampir mendapat masalah karena surat referensi dari dosen yang saya serahkan pada panitia merupakan hasil scan karena saya mendapatkannya via email. Panitia kemudian menyuruh saya untuk menunjukkan bukti korespondensi dengan dosen tersebut yang valid dari history email saya. Saya langsung membuka ponsel saya, dan mencari arsip email itu di inbox akun Gmail. Rasa deg-degan pun bertambah karena sinyal T*lk*ms*l di dalam gedung tersebut lemot sekali sampai akhirnya panitia menyuruh saya mundur dulu untuk membiarkan peserta lain memulai proses verifikasi. Akhirnya, arsip email tersebut bisa diakses! Alhamdulillah!
Jam 1 siang saya sudah mengantri di kursi antrian wawancara. Tidak lama kemudian (padahal rasanya seperti satu minggu menunggu), nama saya dipanggil untuk masuk ke ruang wawancara. Di ruangan tersebut ada 9 meja pewawancara, kalau tidak salah, dan setiap meja ditempati oleh 3 pewawancara. Saya mendapatkan kelompok wawancara nomor 4, yang tempatnya tepat di ujung ruangan, lurus dengan pintu masuknya. Setelah menitipkan tas pada panitia (ya, tas tidak diperbolehkan di bawa ke kursi wawancara), saya berjalan dengan mantap ke meja pewawancara saya. Ada dua orang ibu, satu psikolog dan satu lagi dosen Sastra Inggris dari UNY, dan satu orang bapak yang saya tidak tahu apa profesinya (yang jelas posisinya dalam wawancara ini sebagai pakar). Wawancara dimulai dengan beliau-beliau mempersilakan saya memperkenalkan diri. Setelah itu, ibu dosen dari UNY menanyakan perihal pilihan kampus saya, UCD Irlandia. Si bapak mengomentari "Why? It's sooo far and very very cold there!" Saya mengiyakan dan ikut tertawa, kemudian menjelaskan bahwa setelah melakukan internet research, saya meyakini bahwa semua mata kuliah yang ditawarkan oleh kampus tersebut untuk jurusan Gender, Sexuality, and Culture, adalah yang paling pas untuk mendukung disertasi saya nantinya.
Kemudian pembicaraan beralih ke topik disertasi saya. Si ibu dosen menanyakan mengapa saya memilih topik tersebut. Lalu si bapak menyambung, "What is the benefit of your dissertation for this country?" Lalu saya menjelaskan jawaban saya panjang lebar dengan mantap. Lalu si bapak bertanya lagi, "As you know that there might be some cons regarding your research from religious people in this country, how are you going to handle that?" Aduh! Saya sama sekali tidak menduga pertanyaan ini. Saya sempat blank beberapa saat. Sambil mengulur waktu berpikir saya, saya mengulang lagi statement saya mengenai keuntungan disertasi saya bagi negara ini, lalu menutup argumen dengan, "I'm aware that pros and cons are inevitable and that would be my challenge for this dissertation, but challenges do not stop me."
Banyak pertanyaan lain yang saya tidak ingat dari kedua pakar bidang bahasa, seni, dan budaya tersebut. Ketika tiba giliran sesi dengan ibu psikolog, beliau menyanyakan tentang masa kecil saya yang tertulis di esai 'Sukses Terbesarku'. Air mata tidak dapat saya bendung pada sesi ini. Pembicaraan tentang orang tua selalu membuat hati ini menjadi lembek dan kantung air mata menjadi manja. Lalu beliau menanyakan mengenai bagaimana saya bisa mendapatkan IPK 3,59 dan mendapatkan gelar Best Graduate dari program studi saya. Pertanyaan terakhir dari beliau adalah apa yang akan saya lakukan seandainya tidak lolos seleksi LPDP kali ini.
Setelah acara wawancara selesai, saya langsung pulang ke tempat kos Kustin karena jadwal LGD dan penulisan esai saya masih keesokan harinya.
***
Pada tanggal 27 Agustus 2015, jadwal tes penulisan esai untuk kelompok saya adalah pukul 11 dan LGD pada pukul 2 siang. Hari itu tidak berjalan mulus bagi saya. Karena lupa belum membeli papan jalan untuk penulisan esai, saya harus pelan-pelan mengendarai motor sambil mencari tempat fotokopi atau toko alat tulis yang sekiranya menjual papan jalan. Padahal, jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 10.35. Belum lagi masih harus menghadapi macetnya kota Surabaya di siang hari. Ya Allah!
Saya sampai di parkiran GKN pukul 10.50. Saya tahu waktu sepuluh menit tidak akan cukup bagi saya untuk naik ke lantai tujuh lewat tangga. Namun ketika masuk gedung, Ya Allah...antrian di depan lift di tiap lantai membuat putus asa dalam sekejap. Baiklah! Saya harus ngebut naik tangga kalau begitu caranya. Karena saya ini orangnya jarang sekali (JARANG SEKALI) berolahraga, napas pun habis begitu sampai lantai tujuh, ditambah kedua lutut rasanya jadi cair. Sambil mengatur napas dan langkah kaki, saya menuju meja verifikasi dan melaporkan keterlambatan. Kemudian saya harus turun lagi ke lantai 3 untuk mengerjakan esai. Ya Allah! Rasanya kaki ini mau lepas!
Begitu sudah duduk di dalam ruangan, saya masih sibuk mengatur napas sambil memegang kertas soal dan lembar jawaban. Tanpa pikir panjang, saya memilih topik nomor dua yaitu "konflik antar umat beragama karena pemimpin golongan tidak bijak dalam berkomunikasi", lalu dengan cepat menyusun kerangka argumen di kepala. Mengingat waktu yang diberikan hanya setengah jam, saya memutuskan untuk membuat esai pendek yang isinya satu paragraf pembukaan, satu paragraf isi, satu paragraf solusi, dan satu paragraf kesimpulan. Saya melihat tidak ada kesempatan untuk berindah-indah kata dan membuat esai panjang yang mengesankan, jadi langsung ke intinya saja. Sempat melirik-lirik teman di samping kanan dan kiri, Ya Allah...esainya panjang-panjang! Dua halaman lembar jawaban mereka isi. Sedangkan saya, satu halaman saja tidak penuh. Agak pesimis juga (siapa suruh melirik punya orang lain!) waktu keluar ruangan.
Waktu menunggu antara selesainya on-the-spot essay writing dan dimulainya LGD saya gunakan untuk tidur lagi (saya suka sekali tidur, hahaha) di kursi tunggu peserta di lantai tujuh. Alhamdulillah saya tidak terlambat lagi untuk LGD. Hehe. Begitu sudah di dalam ruangan diskusi, seorang bapak psikolog menerangkan peraturan proses diskusi grup ini. Ada tujuh orang dalam kelompok kami, termasuk saya. Topik yang kami diskusikan adalah prosedur penyitaan kekayaan dan aset gembong narkoba. Secara keseluruhan, diskusi berjalan mulus, meskipun Mas Moderator (yang mengajukan diri) malah mendapatkan porsi berbicara paling banyak, dan ada seorang anggota yang berbicaranya sedikit sekali namun lebih banyak tersenyum mengiyakan yang lain.
Cerita beasiswa ini masih berlanjut ke Part III, tentang tips-tips esai dan seleksi substantif. Thank you!
Jam setengah 7 pagi saya sudah berada di tengah padatnya jalanan pagi Surabaya demi mengejar cita-cita. Anehnya, saat malam sebelumnya saya masih mencari-cari alamat GKN Surabaya, saya merasa jaraknya sangat jauh dari tempat kos Kustin. Namun, begitu pagi saya berangkat dengan yakin, ternyata tidak sampai 15 menit kemudian saya sudah sampai di lokasi seleksi.
Terlalu pagi? Jelas. Untungnya sudah ada beberapa teman seperjuangan yang tiba di tempat parkir sehingga saya tak perlu mencari-cari ruangan seleksi sendirian. Ruang berkumpulnya peserta sekaligus tempat verifikasi dokumen ada di lantai 7, ruang pengerjaan esai ada di lantai 3, dan ruang diskusi grup ada di lantai 2. Karena masih terlalu pagi dan acara baru dimulai jam 8 pagi, akhirnya saya sempatkan tidur lagi di kursi peserta. Haha. Mumpung masih sepi, begitu pikir saya. Begitu saya bangun, peserta sudah banyak, dan saya gelagapan karena kursi-kursi di sebelah dan depan saya sudah berpenghuni. Ups!
Saya mendapatkan jadwal verifikasi dokumen jam 10 pagi dan wawancara pada jam setengah 2 siang. Di sana saya bertemu dengan Mas Irul, kakak tingkat saya di kampus dulu. Dia mendapatkan jadwal wawancara lebih dulu daripada saya, akhirnya saya menunggu sendirian lagi. Saat proses verifikasi, saya hampir mendapat masalah karena surat referensi dari dosen yang saya serahkan pada panitia merupakan hasil scan karena saya mendapatkannya via email. Panitia kemudian menyuruh saya untuk menunjukkan bukti korespondensi dengan dosen tersebut yang valid dari history email saya. Saya langsung membuka ponsel saya, dan mencari arsip email itu di inbox akun Gmail. Rasa deg-degan pun bertambah karena sinyal T*lk*ms*l di dalam gedung tersebut lemot sekali sampai akhirnya panitia menyuruh saya mundur dulu untuk membiarkan peserta lain memulai proses verifikasi. Akhirnya, arsip email tersebut bisa diakses! Alhamdulillah!
Jam 1 siang saya sudah mengantri di kursi antrian wawancara. Tidak lama kemudian (padahal rasanya seperti satu minggu menunggu), nama saya dipanggil untuk masuk ke ruang wawancara. Di ruangan tersebut ada 9 meja pewawancara, kalau tidak salah, dan setiap meja ditempati oleh 3 pewawancara. Saya mendapatkan kelompok wawancara nomor 4, yang tempatnya tepat di ujung ruangan, lurus dengan pintu masuknya. Setelah menitipkan tas pada panitia (ya, tas tidak diperbolehkan di bawa ke kursi wawancara), saya berjalan dengan mantap ke meja pewawancara saya. Ada dua orang ibu, satu psikolog dan satu lagi dosen Sastra Inggris dari UNY, dan satu orang bapak yang saya tidak tahu apa profesinya (yang jelas posisinya dalam wawancara ini sebagai pakar). Wawancara dimulai dengan beliau-beliau mempersilakan saya memperkenalkan diri. Setelah itu, ibu dosen dari UNY menanyakan perihal pilihan kampus saya, UCD Irlandia. Si bapak mengomentari "Why? It's sooo far and very very cold there!" Saya mengiyakan dan ikut tertawa, kemudian menjelaskan bahwa setelah melakukan internet research, saya meyakini bahwa semua mata kuliah yang ditawarkan oleh kampus tersebut untuk jurusan Gender, Sexuality, and Culture, adalah yang paling pas untuk mendukung disertasi saya nantinya.
Kemudian pembicaraan beralih ke topik disertasi saya. Si ibu dosen menanyakan mengapa saya memilih topik tersebut. Lalu si bapak menyambung, "What is the benefit of your dissertation for this country?" Lalu saya menjelaskan jawaban saya panjang lebar dengan mantap. Lalu si bapak bertanya lagi, "As you know that there might be some cons regarding your research from religious people in this country, how are you going to handle that?" Aduh! Saya sama sekali tidak menduga pertanyaan ini. Saya sempat blank beberapa saat. Sambil mengulur waktu berpikir saya, saya mengulang lagi statement saya mengenai keuntungan disertasi saya bagi negara ini, lalu menutup argumen dengan, "I'm aware that pros and cons are inevitable and that would be my challenge for this dissertation, but challenges do not stop me."
Banyak pertanyaan lain yang saya tidak ingat dari kedua pakar bidang bahasa, seni, dan budaya tersebut. Ketika tiba giliran sesi dengan ibu psikolog, beliau menyanyakan tentang masa kecil saya yang tertulis di esai 'Sukses Terbesarku'. Air mata tidak dapat saya bendung pada sesi ini. Pembicaraan tentang orang tua selalu membuat hati ini menjadi lembek dan kantung air mata menjadi manja. Lalu beliau menanyakan mengenai bagaimana saya bisa mendapatkan IPK 3,59 dan mendapatkan gelar Best Graduate dari program studi saya. Pertanyaan terakhir dari beliau adalah apa yang akan saya lakukan seandainya tidak lolos seleksi LPDP kali ini.
Setelah acara wawancara selesai, saya langsung pulang ke tempat kos Kustin karena jadwal LGD dan penulisan esai saya masih keesokan harinya.
***
Pada tanggal 27 Agustus 2015, jadwal tes penulisan esai untuk kelompok saya adalah pukul 11 dan LGD pada pukul 2 siang. Hari itu tidak berjalan mulus bagi saya. Karena lupa belum membeli papan jalan untuk penulisan esai, saya harus pelan-pelan mengendarai motor sambil mencari tempat fotokopi atau toko alat tulis yang sekiranya menjual papan jalan. Padahal, jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 10.35. Belum lagi masih harus menghadapi macetnya kota Surabaya di siang hari. Ya Allah!
Saya sampai di parkiran GKN pukul 10.50. Saya tahu waktu sepuluh menit tidak akan cukup bagi saya untuk naik ke lantai tujuh lewat tangga. Namun ketika masuk gedung, Ya Allah...antrian di depan lift di tiap lantai membuat putus asa dalam sekejap. Baiklah! Saya harus ngebut naik tangga kalau begitu caranya. Karena saya ini orangnya jarang sekali (JARANG SEKALI) berolahraga, napas pun habis begitu sampai lantai tujuh, ditambah kedua lutut rasanya jadi cair. Sambil mengatur napas dan langkah kaki, saya menuju meja verifikasi dan melaporkan keterlambatan. Kemudian saya harus turun lagi ke lantai 3 untuk mengerjakan esai. Ya Allah! Rasanya kaki ini mau lepas!
Begitu sudah duduk di dalam ruangan, saya masih sibuk mengatur napas sambil memegang kertas soal dan lembar jawaban. Tanpa pikir panjang, saya memilih topik nomor dua yaitu "konflik antar umat beragama karena pemimpin golongan tidak bijak dalam berkomunikasi", lalu dengan cepat menyusun kerangka argumen di kepala. Mengingat waktu yang diberikan hanya setengah jam, saya memutuskan untuk membuat esai pendek yang isinya satu paragraf pembukaan, satu paragraf isi, satu paragraf solusi, dan satu paragraf kesimpulan. Saya melihat tidak ada kesempatan untuk berindah-indah kata dan membuat esai panjang yang mengesankan, jadi langsung ke intinya saja. Sempat melirik-lirik teman di samping kanan dan kiri, Ya Allah...esainya panjang-panjang! Dua halaman lembar jawaban mereka isi. Sedangkan saya, satu halaman saja tidak penuh. Agak pesimis juga (siapa suruh melirik punya orang lain!) waktu keluar ruangan.
Waktu menunggu antara selesainya on-the-spot essay writing dan dimulainya LGD saya gunakan untuk tidur lagi (saya suka sekali tidur, hahaha) di kursi tunggu peserta di lantai tujuh. Alhamdulillah saya tidak terlambat lagi untuk LGD. Hehe. Begitu sudah di dalam ruangan diskusi, seorang bapak psikolog menerangkan peraturan proses diskusi grup ini. Ada tujuh orang dalam kelompok kami, termasuk saya. Topik yang kami diskusikan adalah prosedur penyitaan kekayaan dan aset gembong narkoba. Secara keseluruhan, diskusi berjalan mulus, meskipun Mas Moderator (yang mengajukan diri) malah mendapatkan porsi berbicara paling banyak, dan ada seorang anggota yang berbicaranya sedikit sekali namun lebih banyak tersenyum mengiyakan yang lain.
Cerita beasiswa ini masih berlanjut ke Part III, tentang tips-tips esai dan seleksi substantif. Thank you!
Minggu, 13 September 2015
Permintaan Maaf dan Sekilas Cerita Setahun Terakhir
Hmm. Oke. Saya tidak percaya usia postingan terakhir blog ini sudah hampir satu tahun sekarang.
Dari dulu saya memang inkonsisten dalam urusan memelihara blog. Jadi, saya mau minta maaf karena telah mengabaikan ruang tuang pikiran ini. Kepada siapa permintaan maaf ini ditujukan? Kepada dunia maya, karena dunia mereka sudah dikotori oleh blog yang sama sekali tidak produktif ini. Haha.
Selama hampir satu tahun terakhir ini, banyak kejadian yang membuat saya lebih memahami dan mau mengakui kelemahan diri sendiri. Dari banyak pengalaman tersebut, saya belajar bahwa self-talk terbukti bisa membuat kita lebih memahami apa mau diri dan memudahkan pengambilan keputusan.
Setelah lulus S1 di bulan September tahun lalu dan keluar dari tempat kerja lama yang bergerak di bidang online media, saya melamar kerja di salah satu bimbingan belajar bahasa Inggris yang sangat punya nama di Indonesia. Setelah melalui beberapa proses seleksi yang mengharuskan bolak-balik Malang-Surabaya, saya akhirnya diterima untuk menjalani training di Surabaya selama dua minggu.
Setelah training selesai, ada ganjalan yang membuat saya harus menunggu lama sebelum bisa mulai mengajar di lembaga tersebut. Ternyata, rejeki diterima kerja di lembaga tersebut hanya numpang lewat di portfolio kehidupan duniawi saya. Karena satu dan lain hal, seorang perempuan dari Ponorogo ini batal mengajar di lembaga tersebut.
Rejeki yang hanya mampir sebentar ini membuat saya berkaca pada diri sendiri. Apa kesalahan yang saya lakukan sampai rejeki ini ditarik lagi oleh Allah SWT? Dan saya temukan jawabannya. Saat sedang menjalani seleksi masuk lembaga itu dulu, saya memang bersikap jumawa. Beberapa teman sudah ada yang mencoba seleksi tersebut dan sebagian besar dari mereka gagal. Jadi ketika saya dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti teacher training lembaga tersebut, ada perasaan sombong yang menyelinap di hati. Akhirnya, perasaan tersebut membuat saya sedikit meremehkan proses training-nya dan malah membuat kerepotan menjalankan tugas-tugas dan jadwal training.
Karena sudah menyadari letak kesalahan, akhirnya saya bisa mengikhlaskan kesempatan emas mengajar di lembaga bergengsi itupun melayang. Saya berjanji kepada diri sendiri untuk berusaha menjadi lebih rendah hati, dengan memahami bahwa semua hal baik yang saya dapatkan digerakkan oleh Allah SWT, sama sekali bukan karena kualitas saya yang unggul sebagai manusia. Semua terjadi atas ridho-Nya, jadi seunggul apapun saya jadi orang, kalau Allah SWT tidak ridho, semua kebaikan hidup akan hilang dalam sekejap mata. Intinya, jangan kufur nikmat.
Kemudian saya beberapa kali mencoba melamar kerja di tempat lain, dan lagi-lagi belum rejeki. Sambil menunggu dan terus mengusahakan rejeki pekerjaan itu datang, saya telateni ikut agensi terjemahan milik seorang teman kuliah dulu. Dari sana saya mendapatkan pundi-pundi rupiah yang bisa digunakan untuk membeli keinginan-keinginan pribadi tanpa harus minta orang tua. Saya di Malang tinggal bersama Kakek-Nenek, jadi biaya hidup sehari-hari tidak terlalu menjadi soal.
Saya masih belum bisa membaca rencana Allah SWT tentang mengapa saya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan full time setelah lulus kuliah, hingga Idul Fitri 2015 kemarin keluarga mendapatkan cobaan. Kondisi Kakek dan Nenek menurun drastis, sehingga harus diboyong ke kampung halaman saya, Ponorogo, supaya Ibu dan Bulik bisa mengurus beliau berdua dengan intensif. Saya pun akhirnya ikut pulang ke Ponorogo untuk menetap di sana guna membantu mengurus rumah selama Kakek dan Nenek bergantian dirawat di rumah sakit. Mbak yang biasa membantu Ibu di rumah, entah kebetulan atau tidak, meminta berhenti kerja di saat Kakek harus menjalani operasi prostat. Saya tekadkan hati untuk ikhlas tinggal di Ponorogo lagi dan melupakan target jangka pendek untuk bekerja full time di Malang demi keluarga.
Karena tujuan saya setelah lulus S1 adalah segera kuliah S2, selama di Ponorogo saya betul-betul memanfaatkan waktu dan tenaga untuk mengejar beasiswa. Wira-wiri ke kantor kelurahan, kecamatan dan RSUD saya usahakan untuk memenuhi kelengkapan mendapatkan beasiswa. Beberapa kali juga harus bolak-balik Malang untuk tes TOEFL dan mengambil sertifikatnya. Setelah gagal mendaftar Fulbright karena satu dan lain hal, akhirnya saya melamar beasiswa LPDP periode 3 tahun 2015 ini.
Alhamdulillah, ternyata rejeki saya selepas S1 memang bukan pekerjaan full time, melainkan beasiswa kuliah Magister Luar Negeri dari LPDP. Untuk postingan selanjutnya, saya ingin bercerita tentang cerita berburu LPDP dan berbagi beberapa tips soal beasiswa yang dilabeli 'super baik' oleh para awardee-nya ini.
Terima kasih sudah membaca postingan super panjang ini!
Dari dulu saya memang inkonsisten dalam urusan memelihara blog. Jadi, saya mau minta maaf karena telah mengabaikan ruang tuang pikiran ini. Kepada siapa permintaan maaf ini ditujukan? Kepada dunia maya, karena dunia mereka sudah dikotori oleh blog yang sama sekali tidak produktif ini. Haha.
Selama hampir satu tahun terakhir ini, banyak kejadian yang membuat saya lebih memahami dan mau mengakui kelemahan diri sendiri. Dari banyak pengalaman tersebut, saya belajar bahwa self-talk terbukti bisa membuat kita lebih memahami apa mau diri dan memudahkan pengambilan keputusan.
Setelah lulus S1 di bulan September tahun lalu dan keluar dari tempat kerja lama yang bergerak di bidang online media, saya melamar kerja di salah satu bimbingan belajar bahasa Inggris yang sangat punya nama di Indonesia. Setelah melalui beberapa proses seleksi yang mengharuskan bolak-balik Malang-Surabaya, saya akhirnya diterima untuk menjalani training di Surabaya selama dua minggu.
Setelah training selesai, ada ganjalan yang membuat saya harus menunggu lama sebelum bisa mulai mengajar di lembaga tersebut. Ternyata, rejeki diterima kerja di lembaga tersebut hanya numpang lewat di portfolio kehidupan duniawi saya. Karena satu dan lain hal, seorang perempuan dari Ponorogo ini batal mengajar di lembaga tersebut.
Rejeki yang hanya mampir sebentar ini membuat saya berkaca pada diri sendiri. Apa kesalahan yang saya lakukan sampai rejeki ini ditarik lagi oleh Allah SWT? Dan saya temukan jawabannya. Saat sedang menjalani seleksi masuk lembaga itu dulu, saya memang bersikap jumawa. Beberapa teman sudah ada yang mencoba seleksi tersebut dan sebagian besar dari mereka gagal. Jadi ketika saya dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti teacher training lembaga tersebut, ada perasaan sombong yang menyelinap di hati. Akhirnya, perasaan tersebut membuat saya sedikit meremehkan proses training-nya dan malah membuat kerepotan menjalankan tugas-tugas dan jadwal training.
Karena sudah menyadari letak kesalahan, akhirnya saya bisa mengikhlaskan kesempatan emas mengajar di lembaga bergengsi itupun melayang. Saya berjanji kepada diri sendiri untuk berusaha menjadi lebih rendah hati, dengan memahami bahwa semua hal baik yang saya dapatkan digerakkan oleh Allah SWT, sama sekali bukan karena kualitas saya yang unggul sebagai manusia. Semua terjadi atas ridho-Nya, jadi seunggul apapun saya jadi orang, kalau Allah SWT tidak ridho, semua kebaikan hidup akan hilang dalam sekejap mata. Intinya, jangan kufur nikmat.
Kemudian saya beberapa kali mencoba melamar kerja di tempat lain, dan lagi-lagi belum rejeki. Sambil menunggu dan terus mengusahakan rejeki pekerjaan itu datang, saya telateni ikut agensi terjemahan milik seorang teman kuliah dulu. Dari sana saya mendapatkan pundi-pundi rupiah yang bisa digunakan untuk membeli keinginan-keinginan pribadi tanpa harus minta orang tua. Saya di Malang tinggal bersama Kakek-Nenek, jadi biaya hidup sehari-hari tidak terlalu menjadi soal.
Saya masih belum bisa membaca rencana Allah SWT tentang mengapa saya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan full time setelah lulus kuliah, hingga Idul Fitri 2015 kemarin keluarga mendapatkan cobaan. Kondisi Kakek dan Nenek menurun drastis, sehingga harus diboyong ke kampung halaman saya, Ponorogo, supaya Ibu dan Bulik bisa mengurus beliau berdua dengan intensif. Saya pun akhirnya ikut pulang ke Ponorogo untuk menetap di sana guna membantu mengurus rumah selama Kakek dan Nenek bergantian dirawat di rumah sakit. Mbak yang biasa membantu Ibu di rumah, entah kebetulan atau tidak, meminta berhenti kerja di saat Kakek harus menjalani operasi prostat. Saya tekadkan hati untuk ikhlas tinggal di Ponorogo lagi dan melupakan target jangka pendek untuk bekerja full time di Malang demi keluarga.
Karena tujuan saya setelah lulus S1 adalah segera kuliah S2, selama di Ponorogo saya betul-betul memanfaatkan waktu dan tenaga untuk mengejar beasiswa. Wira-wiri ke kantor kelurahan, kecamatan dan RSUD saya usahakan untuk memenuhi kelengkapan mendapatkan beasiswa. Beberapa kali juga harus bolak-balik Malang untuk tes TOEFL dan mengambil sertifikatnya. Setelah gagal mendaftar Fulbright karena satu dan lain hal, akhirnya saya melamar beasiswa LPDP periode 3 tahun 2015 ini.
Alhamdulillah, ternyata rejeki saya selepas S1 memang bukan pekerjaan full time, melainkan beasiswa kuliah Magister Luar Negeri dari LPDP. Untuk postingan selanjutnya, saya ingin bercerita tentang cerita berburu LPDP dan berbagi beberapa tips soal beasiswa yang dilabeli 'super baik' oleh para awardee-nya ini.
Terima kasih sudah membaca postingan super panjang ini!
Rabu, 26 November 2014
Mengenai perkembangan misi membaca: Autumn Once More, Parasit Lajang, dan Katarsis
Dari mulai bulan Agustus lalu, saya baru berhasil menyelesaikan tiga buku bacaan; Autumn Once More, Parasit Lajang, dan Katarsis. Silakan, Anda boleh mengatakan saya tidak komit, pemalas, atau pembaca yang buruk. Memang benar adanya. Yang terakhir, Katarsis, malah baru saya selesaikan kemarin dalam waktu sehari saja.
Sensasi yang saya rasakan sewaktu membaca ketiga buku itu berbeda-beda. After effect-nya pun berbeda-beda. Sewaktu membaca Autumn Once More, saya 'berenang' diantara kisah-kisah manis dan getir tentang cinta, yang ditulis ringan ala Metropop. Kelar membacanya saya senyum-senyum, ingat pacar, ingat cinta pertama saya sewaktu SMP, ingat taksir-taksiran saya zaman SMP juga. Ternyata, sebenarnya cerita cinta yang beredar di seluruh penjuru dunia ini tidak jauh beda, tapi pemaknaan dan penceritaanya yang bervariasi yang membuat cerita cinta itu seolah banyak macamnya. Fasenya, toh, cuma ada empat: bertemu, jatuh cinta, bersama, langgeng/putus. Iya, tidak?
Kemudian saya berlanjut membaca Parasit Lajang, selang 3-4 hari setelah selesai dengan Autumn Once More. Saya orang yang mendambakan pernikahan, karena saya dibesarkan oleh kedua orang tua yang selalu nampak sangat mencintai satu sama lain, dan tidak sungkan menunjukkan PDA (Public Display Affection) di depan anak-anaknya. Oleh karena itu, saya tumbuh besar memimpikan keluarga yang bahagia seperti yang dimiliki papa mama saya; dengan rumah besar berkamar banyak, karena anaknya juga banyak (saya anak pertama dari empat bersaudara). Hal ini membuat saya merasa seperti sedang berkelahi di atas ring tinju selama membaca Parasit Lajang. Bagi yang sudah pernah membacanya, pasti Anda bisa mengerti sensasi yang saya rasakan. Saya tidak bilang paham, ya, hanya mengerti saja.
Secara keseluruhan, saya mengagumi cara berpikir Ayu Utami yang kompleks. Semua hal dia kritisi. Dari mulai seks yang seharusnya dimaknai sebagai kenikmatan badaniah tanpa perlu dihubungkan dengan resminya pernikahan, hingga terapi minum urin yang sempat ngetren beberapa tahun silam di kalangan artis. Tapi, ya itu tadi, kelar membaca, rasanya saya seperti babak belur habis bertinju.
Selang 2-3 hari setelah menyelesaikan Parasit Lajang, saya berlanjut ke Katarsis. Anda pernah bermain permainan komputer, Slender Man? Nah, rasa sepaneng membaca Katarsis sama seperti ketika Anda bermain Slender Man. Sayangnya, sampai di tengah-tengah cerita, rasa penasaran yang berhasil dibangun si penulis sejak awal cerita, mulai memudar. Kemunculan satu tokoh lain yang tiba-tiba mengubah sudut pandang cerita, membuat alur mulai bisa saya tebak. Sebagai pecinta Fahri Asiza sewaktu SMP dulu, alur yang dibangun penulis Katarsis ini tak jauh beda. Meski tetap sepaneng, saya sudah bisa menebak siapa dalang dari semua pembunuhan berantai yang menghantui si tokoh utama yang awalnya masih antagonis.
Sekarang, saya sedang bersantai, mendinginkan otak dengan membaca kisah seringan When Patty Went to College. Saya mau mengakui satu hal: buku ini saya beli di tahun 2010, waktu masih tahun pertama kuliah dan belum pernah saya baca sampai selesai, sampai sekarang saya sudah lulus. Silakan, penthung saya pakai batang sapu ijuk!
Sensasi yang saya rasakan sewaktu membaca ketiga buku itu berbeda-beda. After effect-nya pun berbeda-beda. Sewaktu membaca Autumn Once More, saya 'berenang' diantara kisah-kisah manis dan getir tentang cinta, yang ditulis ringan ala Metropop. Kelar membacanya saya senyum-senyum, ingat pacar, ingat cinta pertama saya sewaktu SMP, ingat taksir-taksiran saya zaman SMP juga. Ternyata, sebenarnya cerita cinta yang beredar di seluruh penjuru dunia ini tidak jauh beda, tapi pemaknaan dan penceritaanya yang bervariasi yang membuat cerita cinta itu seolah banyak macamnya. Fasenya, toh, cuma ada empat: bertemu, jatuh cinta, bersama, langgeng/putus. Iya, tidak?
Kemudian saya berlanjut membaca Parasit Lajang, selang 3-4 hari setelah selesai dengan Autumn Once More. Saya orang yang mendambakan pernikahan, karena saya dibesarkan oleh kedua orang tua yang selalu nampak sangat mencintai satu sama lain, dan tidak sungkan menunjukkan PDA (Public Display Affection) di depan anak-anaknya. Oleh karena itu, saya tumbuh besar memimpikan keluarga yang bahagia seperti yang dimiliki papa mama saya; dengan rumah besar berkamar banyak, karena anaknya juga banyak (saya anak pertama dari empat bersaudara). Hal ini membuat saya merasa seperti sedang berkelahi di atas ring tinju selama membaca Parasit Lajang. Bagi yang sudah pernah membacanya, pasti Anda bisa mengerti sensasi yang saya rasakan. Saya tidak bilang paham, ya, hanya mengerti saja.
Secara keseluruhan, saya mengagumi cara berpikir Ayu Utami yang kompleks. Semua hal dia kritisi. Dari mulai seks yang seharusnya dimaknai sebagai kenikmatan badaniah tanpa perlu dihubungkan dengan resminya pernikahan, hingga terapi minum urin yang sempat ngetren beberapa tahun silam di kalangan artis. Tapi, ya itu tadi, kelar membaca, rasanya saya seperti babak belur habis bertinju.
Selang 2-3 hari setelah menyelesaikan Parasit Lajang, saya berlanjut ke Katarsis. Anda pernah bermain permainan komputer, Slender Man? Nah, rasa sepaneng membaca Katarsis sama seperti ketika Anda bermain Slender Man. Sayangnya, sampai di tengah-tengah cerita, rasa penasaran yang berhasil dibangun si penulis sejak awal cerita, mulai memudar. Kemunculan satu tokoh lain yang tiba-tiba mengubah sudut pandang cerita, membuat alur mulai bisa saya tebak. Sebagai pecinta Fahri Asiza sewaktu SMP dulu, alur yang dibangun penulis Katarsis ini tak jauh beda. Meski tetap sepaneng, saya sudah bisa menebak siapa dalang dari semua pembunuhan berantai yang menghantui si tokoh utama yang awalnya masih antagonis.
Sekarang, saya sedang bersantai, mendinginkan otak dengan membaca kisah seringan When Patty Went to College. Saya mau mengakui satu hal: buku ini saya beli di tahun 2010, waktu masih tahun pertama kuliah dan belum pernah saya baca sampai selesai, sampai sekarang saya sudah lulus. Silakan, penthung saya pakai batang sapu ijuk!
Jumat, 29 Agustus 2014
Tentang cinta pertama dan mengapa itu penting untuk kesehatan jiwa
Cinta pertama saya adalah seorang teman TK, SD, dan SMP dulu. Ya, satu orang spesial yang kebetulan sama-sama makan bangku pendidikan dari tempat yang sama dengan saya. Namanya, sebut saja S. Saya dan S sempat menjadi kawan karib di kelas 3 SD, waktu masih zamannya film anak-anak Big Bad Beetle Borgs di salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini. Sayangnya, S kemudian terbawa arus anak-anak lain yang mem-bully saya, dan cerita perkawanan kami pun berakhir.
Seperti cerita-cerita cinta lainnya, setelah saya dan S tidak lagi berkawan, saya sadar sepertinya saya sudah menganggapnya lebih dari sekadar kawan. Sampai akhirnya di kelas 6, ketika saya berpisah kelas dengan S ini, saya diam-diam merasa rindu. Waktu itu saya belum mengartikan ini cinta, karena masih ingusan dan belum lagi mendapat haid pertama saya.
Tak disangka, S dan saya masuk ke SMP favorit yang sama di kota kampung halaman saya. Rupanya rasa rindu yang saya rasakan di kelas 6 dulu berlanjut. Lewat beragam intrik dan cerita yang saya alami di SMP, saya semakin tidak bisa menganggap S adalah sosok yang biasa saja di hidup saya.
Long story short, S kemudian lolos ke SMA favorit di kota kampung halaman saya, dan saya memilih bersekolah di pondok pesantren selepas SMP. Ada beberapa kegilaan yang saya lakukan untuk menuruti rasa rindu saya terhadap S, dari mulai meneleponnya di pagi buta di tanggal ulang tahunnya, dari wartel pondok, hingga membelikan kado sebuah buku yang sampai sekarang tidak pernah saya berikan karena terlalu malu.
***
Mengapa punya cinta pertama itu penting untuk kesehatan jiwa?
Fase cinta pertama terjadi pada usia yang berbeda-beda bagi tiap orang. Saya, baru sadar bahwa S itu cinta pertama saya saat menginjak bangku SMP, padahal saya sudah mengenalnya sejak masih piyik kelas TK nol kecil. Ada yang baru merasakan rasa berdebar setiap kali bertemu satu sosok lawan jenis di bangku SMA. Kapanpun itu terjadi, jangan lari. Hayati, rasakan, pahami. Biarkan rasa berdebar-debar yang gila dan memabukkan itu membungkam logika sejenak. Biarkan diri lepas dari kendali sebentar. Dengan begitu, seseorang akan mulai memahami cara kerja hatinya sendiri dan ini bisa membawa dampak ketika sudah dewasa nanti.
Saya berani mengatakan ini karena saya sudah mengenal lebih dari 10 orang yang mengaku tidak mempunyai cinta pertama, dan akhirnya masih belum bisa mengekspresikan perasaan meskipun umurnya sudah 20-an. Kebanyakan dari mereka sulit menangis saat bersedih, padahal berkata ingin bisa menangis. Ada juga yang tidak bisa marah tiap kali ada orang yang mengecewakan mereka, karena terlalu buta bagaimana menafsirkan rasanya hati. Akhirnya, hanya bisa diam. Ada pula yang emosinya malah meledak-ledak karena tidak bisa meredam rasa berdebar berlebih di dada tiap kali egonya tersulut.
Di sisi lain, orang-orang yang mengaku punya cinta pertama, begitu luwes mengekspresikan perasaannya. Bahkan beberapa pandai sekali merangkai kata. Mereka saya kenal punya pribadi yang lebih hangat dan murah bicara.
Saya tidak membuat sebuah generalisasi di sini, saya hanya menjabarkan pengamatan yang saya lakukan. Silakan jika ada yang membaca tulisan ini lalu mempunyai pendapat berbeda, saya setuju untuk berbicara lebih banyak.
Seperti cerita-cerita cinta lainnya, setelah saya dan S tidak lagi berkawan, saya sadar sepertinya saya sudah menganggapnya lebih dari sekadar kawan. Sampai akhirnya di kelas 6, ketika saya berpisah kelas dengan S ini, saya diam-diam merasa rindu. Waktu itu saya belum mengartikan ini cinta, karena masih ingusan dan belum lagi mendapat haid pertama saya.
Tak disangka, S dan saya masuk ke SMP favorit yang sama di kota kampung halaman saya. Rupanya rasa rindu yang saya rasakan di kelas 6 dulu berlanjut. Lewat beragam intrik dan cerita yang saya alami di SMP, saya semakin tidak bisa menganggap S adalah sosok yang biasa saja di hidup saya.
Long story short, S kemudian lolos ke SMA favorit di kota kampung halaman saya, dan saya memilih bersekolah di pondok pesantren selepas SMP. Ada beberapa kegilaan yang saya lakukan untuk menuruti rasa rindu saya terhadap S, dari mulai meneleponnya di pagi buta di tanggal ulang tahunnya, dari wartel pondok, hingga membelikan kado sebuah buku yang sampai sekarang tidak pernah saya berikan karena terlalu malu.
***
Mengapa punya cinta pertama itu penting untuk kesehatan jiwa?
Fase cinta pertama terjadi pada usia yang berbeda-beda bagi tiap orang. Saya, baru sadar bahwa S itu cinta pertama saya saat menginjak bangku SMP, padahal saya sudah mengenalnya sejak masih piyik kelas TK nol kecil. Ada yang baru merasakan rasa berdebar setiap kali bertemu satu sosok lawan jenis di bangku SMA. Kapanpun itu terjadi, jangan lari. Hayati, rasakan, pahami. Biarkan rasa berdebar-debar yang gila dan memabukkan itu membungkam logika sejenak. Biarkan diri lepas dari kendali sebentar. Dengan begitu, seseorang akan mulai memahami cara kerja hatinya sendiri dan ini bisa membawa dampak ketika sudah dewasa nanti.
Saya berani mengatakan ini karena saya sudah mengenal lebih dari 10 orang yang mengaku tidak mempunyai cinta pertama, dan akhirnya masih belum bisa mengekspresikan perasaan meskipun umurnya sudah 20-an. Kebanyakan dari mereka sulit menangis saat bersedih, padahal berkata ingin bisa menangis. Ada juga yang tidak bisa marah tiap kali ada orang yang mengecewakan mereka, karena terlalu buta bagaimana menafsirkan rasanya hati. Akhirnya, hanya bisa diam. Ada pula yang emosinya malah meledak-ledak karena tidak bisa meredam rasa berdebar berlebih di dada tiap kali egonya tersulut.
Di sisi lain, orang-orang yang mengaku punya cinta pertama, begitu luwes mengekspresikan perasaannya. Bahkan beberapa pandai sekali merangkai kata. Mereka saya kenal punya pribadi yang lebih hangat dan murah bicara.
Saya tidak membuat sebuah generalisasi di sini, saya hanya menjabarkan pengamatan yang saya lakukan. Silakan jika ada yang membaca tulisan ini lalu mempunyai pendapat berbeda, saya setuju untuk berbicara lebih banyak.
Rabu, 27 Agustus 2014
Tentang tombol 'dislike' di Facebook dan mengapa sebaiknya itu tidak ada
Saya sering sekali melihat status teman-teman saya di Facebook yang mengeluhkan tidak adanya tombol dislike alias tombol 'tidak suka' di sosial media tersebut. Saya juga sempat berpikir alangkah praktisnya kalau ada tombol dislike Facebook, saya jadi bisa dengan jelas menunjukkan rasa tidak suka saya pada postingan teman, baik itu foto, status, maupun check-in 'alay' yang mereka unggah. Alasan saya waktu itu, supaya mereka tahu bahwa yang mereka lakukan itu sama sekali nggak keren dan banyak tidak disukai orang.
Lalu, saya berpikir ulang.
Saya ini korban bully waktu SD. Saya hampir tidak punya teman, baik laki-laki maupun perempuan, entah mengapa. Mungkin karena saya bandel, sering tidak mengerjakan PR, sering datang terlambat, pendek, hitam, dan tidak cantik. Itu hanya tebakan saya. Aslinya, saya tidak paham kenapa saya dulu di-bully. Saya sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dituduh mencuri di dalam kelas, sampai akhirnya dipaksa mengaku oleh salah seorang guru yang terang-terangan menyatakan rasa tidak sukanya pada saya. Saya sudah pernah merasakan rasanya dipanggil 'najis' oleh teman sekelas dan diludahi, dengan alasan yang tidak jelas. Yang pasti, teman-teman SD saya sejak kelas 2-5 jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya pada saya.
Sampai akhirnya saya pindah kelas di tahun keenam, dari kelas (yang katanya) unggulan, A, ke kelas (yang katanya) buangan, C. Saya langsung cocok di sana, dengan teman-teman yang lebih toleran. Mereka tidak peduli apakah temannya sering telat, atau sering tidak mengerjakan PR, pendek, atau tidak cantik, sepanjang dia baik dan tidak pelit, dia pasti akan ditemani. I have so many fond memories with the class.
Pengalaman ini yang membuat saya berubah pikiran bahwa tombol dislike di Facebook itu nantinya bisa jadi alat bully modern kalau betul-betul diadakan oleh Mark Zuckerberg. Orang-orang akan dengan mudahnya menunjukkan rasa tidak sukanya pada setiap teman Facebooknya, dan orang yang menerima tombol dislike itu lama-lama akan merasa bahwa dirinya tidak cukup baik untuk ada di lingkungan maya tersebut, hampir sama seperti saya dulu. Saya dulu sering berpikir, "Sejelek apakah saya sampai saya tidak punya teman di kelas?" Apalagi kalau sampai dia menerima puluhan tombol 'tidak suka' pada satu postingan saja. Bisa-bisa jatuh depresi hanya karena bermain sosial media.
Lagipula, jika saya tidak suka dengan postingan teman saya di Facebook, ada fitur Hide this post. Tak perlu menyakiti hati siapapun, kenyamanan saya pun tidak terganggu. Jadi, tidak perlu ada yang namanya dislike button.
Lalu, saya berpikir ulang.
Saya ini korban bully waktu SD. Saya hampir tidak punya teman, baik laki-laki maupun perempuan, entah mengapa. Mungkin karena saya bandel, sering tidak mengerjakan PR, sering datang terlambat, pendek, hitam, dan tidak cantik. Itu hanya tebakan saya. Aslinya, saya tidak paham kenapa saya dulu di-bully. Saya sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dituduh mencuri di dalam kelas, sampai akhirnya dipaksa mengaku oleh salah seorang guru yang terang-terangan menyatakan rasa tidak sukanya pada saya. Saya sudah pernah merasakan rasanya dipanggil 'najis' oleh teman sekelas dan diludahi, dengan alasan yang tidak jelas. Yang pasti, teman-teman SD saya sejak kelas 2-5 jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya pada saya.
Sampai akhirnya saya pindah kelas di tahun keenam, dari kelas (yang katanya) unggulan, A, ke kelas (yang katanya) buangan, C. Saya langsung cocok di sana, dengan teman-teman yang lebih toleran. Mereka tidak peduli apakah temannya sering telat, atau sering tidak mengerjakan PR, pendek, atau tidak cantik, sepanjang dia baik dan tidak pelit, dia pasti akan ditemani. I have so many fond memories with the class.
Pengalaman ini yang membuat saya berubah pikiran bahwa tombol dislike di Facebook itu nantinya bisa jadi alat bully modern kalau betul-betul diadakan oleh Mark Zuckerberg. Orang-orang akan dengan mudahnya menunjukkan rasa tidak sukanya pada setiap teman Facebooknya, dan orang yang menerima tombol dislike itu lama-lama akan merasa bahwa dirinya tidak cukup baik untuk ada di lingkungan maya tersebut, hampir sama seperti saya dulu. Saya dulu sering berpikir, "Sejelek apakah saya sampai saya tidak punya teman di kelas?" Apalagi kalau sampai dia menerima puluhan tombol 'tidak suka' pada satu postingan saja. Bisa-bisa jatuh depresi hanya karena bermain sosial media.
Lagipula, jika saya tidak suka dengan postingan teman saya di Facebook, ada fitur Hide this post. Tak perlu menyakiti hati siapapun, kenyamanan saya pun tidak terganggu. Jadi, tidak perlu ada yang namanya dislike button.
Selasa, 26 Agustus 2014
Sudah terlalu lama berhenti maraton novel
Membaca saja sudah jarang, apalagi menulis.
Waktu kelas 1 SMA dulu, saya pernah menulis draft novel sebanyak 300 halaman. Ketika saya ajukan ke kepala sekolah saya, yang juga seorang sastrawan, untuk proof-reading, beliau terkejut. Seusia 16 tahun, saya sudah bisa konsisten menulis selama 3-4 bulan untuk menyelesaikan sebuah draft novel sepanjang itu. Setelah saya pikir-pikir lagi sekarang, pasti saat itu saya sedang gila. Novel itu pun akhirnya diterbitkan koran lokal sebagai cerita bersambung, selama kurang lebih 20 edisi.
Waktu tahun-tahun pertama kuliah, saya berhasil menulis 4 cerpen utuh, masing-masing berjumlah 5-6 halaman. Sayangnya, semakin tua usia semester kuliah, saya semakin jarang membaca. Itu berakibat pada produktifitas menulis saya yang jauh berkurang. Saya kesal dan merasa gagal sebagai seorang kutu buku. Sepertinya saya tidak lagi pantas menyandang gelar kutu buku yang sedari kecil saya bangga-banggakan.
Orang-orang sering bilang, penulis yang baik adalah seorang pembaca yang rajin.
Maka dari itu, karena saya sedang mulai membangun semangat menulis lagi dan meneruskan mimpi masa kecil untuk menjadi penulis, sekarang saya ingin menantang diri sendiri. Ada 12 novel di rak buku saya yang belum selesai saya baca, beberapa di antaranya malah sudah saya biarkan hanya bertengger sejak 2 tahun yang lalu. Sampai akhir tahun nanti, saya harus bisa menyelesaikan 12 novel tersebut. Ini daftar judulnya:
# Katarsis - Anastasia Aemilia
# The Song Reader - Lisa Tucker
# Paulo Coelho - The Pilgrimage
# The Mediator: Reunion - Meg Cabot
# Autumn Once More - Kumcer Editor & Penulis Gramedia
# Size 12 is Not Fat - Meg Cabot
# Rescuing Rose - Isabel Wolff (Eng. Version)
# In the Cards: Fame - Mariah Fredericks (Eng. Version)
# Victoria and the Rogue - Meg Cabot
# Maya - Ayu Utami
# Si Parasit Lajang - Ayu Utami
# ROMA - Robin Wijaya
I wish you luck, self!
Minggu, 24 Agustus 2014
Yang ini sudah terlalu lama dipikir
Saya mengenal blog sudah sejak tahun 2007. Kalau dihitung-hitung,
sampai sekarang saya sudah punya 6 blog dengan yang baru ini. Sayangnya,
saya adalah orang yang gampang mengolok-olok diri sendiri, sehingga 5
blog saya terdahulu saya 'lenyapkan' dari hidup saya. Beberapa ada yang
dengan sengaja saya hapus, ada juga yang saya biarkan terbengkalai
begitu saja dan mengotori internet.
Yang saya maksud mengolok-olok diri sendiri di sini adalah, saya ini orangnya gampang sekali menemukan kelemahan, kejelekan, atau kecacatan karya sendiri. Setiap kali punya blog, saya akan baca ulang dari postingan baru sampai ke postingan awal beberapa waktu sekali. Tiap kali saya merasa beberapa tulisan saya itu jelek, alay, nyampah atau tidak ada artinya sama sekali, saya akan merutuki diri sendiri dan akhirnya menghapus blog itu, atau menelantarkannya.
Itu pula yang terjadi dengan puluhan cerpen dan beberapa draft novel yang pernah saya tulis dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Sudah jadi, dibaca berulang-ulang, ketemu cacatnya, buang. Sekarang, di umur 23 tahun ini, saya menyesal. Sifat labil dan insecure dengan diri sendiri seperti itu tidak membawa hasil apa-apa buat saya. Saya jadi tidak punya portofolio yang bisa dipakai untuk belajar dan mengukur perkembangan menulis saya. Sampai akhirnya saya mencari-cari alasan untuk tidak menulis lagi dalam waktu lama: tugas kuliah.
Saya baru saja lulus kuliah. Waktu masih semester 7-8, saya nyambi kerja full-time di sebuah online media besar di Indonesia. Dapat 6 bulan kerja di sana, gaji tidak ada perubahan, kontrak yang tadinya dijanjikan akan diperbarui tidak kunjung jadi nyata. Akhirnya saya jatuh bosan. Keluar dari sana, skripsi selesai. Sekarang saya sedang mencoba memulai kembali kegiatan yang sudah menjadi bagian diri saya, namun memudar karena rasa insecure yang konyol itu: writing for fun.
Karenanya, saya membuat blog ini untuk mengumpulkan potongan-potongan mimpi saya menjadi published writer/author. Dari sini, saya ingin menapaki lagi impian masa remaja yang dibumbui puluhan teenlit, metropop dan chicklit, untuk menjadi penulis fiksi.
Mari berharap saya sudah jauh lebih dewasa sekarang. Semoga Catatan Seliweran ini tidak akan hanya jadi bagian daftar "Blog yang Pernah Saya Miliki Lalu Saya Hapus".
Yang saya maksud mengolok-olok diri sendiri di sini adalah, saya ini orangnya gampang sekali menemukan kelemahan, kejelekan, atau kecacatan karya sendiri. Setiap kali punya blog, saya akan baca ulang dari postingan baru sampai ke postingan awal beberapa waktu sekali. Tiap kali saya merasa beberapa tulisan saya itu jelek, alay, nyampah atau tidak ada artinya sama sekali, saya akan merutuki diri sendiri dan akhirnya menghapus blog itu, atau menelantarkannya.
Itu pula yang terjadi dengan puluhan cerpen dan beberapa draft novel yang pernah saya tulis dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Sudah jadi, dibaca berulang-ulang, ketemu cacatnya, buang. Sekarang, di umur 23 tahun ini, saya menyesal. Sifat labil dan insecure dengan diri sendiri seperti itu tidak membawa hasil apa-apa buat saya. Saya jadi tidak punya portofolio yang bisa dipakai untuk belajar dan mengukur perkembangan menulis saya. Sampai akhirnya saya mencari-cari alasan untuk tidak menulis lagi dalam waktu lama: tugas kuliah.
Saya baru saja lulus kuliah. Waktu masih semester 7-8, saya nyambi kerja full-time di sebuah online media besar di Indonesia. Dapat 6 bulan kerja di sana, gaji tidak ada perubahan, kontrak yang tadinya dijanjikan akan diperbarui tidak kunjung jadi nyata. Akhirnya saya jatuh bosan. Keluar dari sana, skripsi selesai. Sekarang saya sedang mencoba memulai kembali kegiatan yang sudah menjadi bagian diri saya, namun memudar karena rasa insecure yang konyol itu: writing for fun.
Karenanya, saya membuat blog ini untuk mengumpulkan potongan-potongan mimpi saya menjadi published writer/author. Dari sini, saya ingin menapaki lagi impian masa remaja yang dibumbui puluhan teenlit, metropop dan chicklit, untuk menjadi penulis fiksi.
Mari berharap saya sudah jauh lebih dewasa sekarang. Semoga Catatan Seliweran ini tidak akan hanya jadi bagian daftar "Blog yang Pernah Saya Miliki Lalu Saya Hapus".
Langganan:
Postingan (Atom)


